BEBERAPA TIPS SEBELUM DAN SAAT MENDAKI GUNUNG
Sebagian orang beranggapan bahwa naik gunung itu adalah kegiatan yang sangat berbahaya. Memang benar, bahwa "Mendaki Gunung itu adalah nyawa taruhannya", karena bila kita salah sedikit saja nyawa kita bisa melayang. Kita pun tidak bisa menjamin 100% keselamatan kita sendiri, apalagi keselamatan orang lain, tapi kita hanya bisa mencegah atau meminimalisirnya. Dan wajib hukumnya untuk benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya disetiap halnya dengan teliti dan tanpa celah.
Banyak hal yang perlu diperhatikan sebelum kita melakukan kegiatan pendakian gunung.
Nah, bagaimana cara mencegah atau meminimalisir kejadian-kejadian yang tidak kita inginkan saat kita mendaki tersebut???
Berikut ada beberapa tips sebelum kita memulai perjalanan dan saat pendakian yang bisa kita lakukn untuk meminimalisir kejadian-kejadian yang tidak kita inginkn selama perjalanan atau pendakian.
- Latihlah fisik minimal 1bulan sebelum kita mendaki.
Hal ini supaya otot-otot kita tidak kaget atau tegang pada saat melakukan perjalanan/pendakian.
- Cari tahu apa saja hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum kita mendaki gunung, apalagi jika kita adalah seorang pendaki pemula.
- Cari informasi yang lengkap tentang daerah yang akan kita kunjungi, agar kita bisa mempersiapkan segala keperluannya.
Informasi ini bisa kita dapat melalui banyak bertanya kepada yang sudah pernah kesana atau melalui searching via internet.
- Cari pula informasi tentang biaya dan transportasinya, berapa biaya dan dengan menggunakan apa kita untuk sampai ke tempat tujuan.
- Buat estimasi waktu/biaya perjalanan untuk mengetahui berapa waktu/biaya yang dibutuhkan untuk sampai ke tempat tujuan dan kembali lagi ke rumah.
Mungkin selama ini kalian lebih sering mengikuti acara-acara opentrip yang biasanya sudah disiapkan transportasi Pergi dan Pulang serta segala kebutuhannya, sehingga kalian tidak mengerti tentang transportasi dan berapa biaya sebenarnya yang dibutuhkan untuk sampai ke tempat tujuan, serta apa saja yang harus/wajib dibawa.
- Ketahuilah perlengkapan apa saja yang dibutuhkan untuk mendaki gunung, buat list perlengkapannya selengkap mungkin. Karena, barang yang kita bawa saat mendaki bisa dibilang adalah nyawa kedua kita. Dan jangan pernah ada anggapan, "Ngapain bawa perlengkapan banyak2, berat2in aja", walaupun di gunung hanya butuh 1-2 hari safety hike harus dinomorsatukan.
"Naik gunung itu susah jadi jangan dibikin susah", bawa logistik lebih saat mendaki. Jika mendaki 2 hari bawa bekal untuk 3-4 hari.
Hal ini untuk menjaga-jaga seandainya ada penambahan/molornya waktu saat mendaki. Jika ini terjadi maka kita sudah siap dengan bekal logistik yang lebih.
- Bawalah logistik yang banyak mengandung kalori, karna saat mendaki tubuh kita banyak membutuhkan kalori. Usahakan tidak membawa makanan yang banyak membutuhkan air jika kita mendaki gunung yang tidak ada/jauh dari sumber air.
- Jika kalian mempunyai/mengidap suatu penyakit, bawalah obat-obatan khusus serta beritahu kawan seperjalanan kalian.
- Khusus buat wanita bawa selalu pembalut. Hal ini untuk jaga- jaga haid/datang bulan yang tidak diduga, dan jangan buang disembarang tempat bekasnya.
- Ketahuilah pakaian, sepatu, tas yang cocok untuk digunakan saat pendakian, agar kita tidak salah dalam menggunakan kostum.
- Usahakan menggunakan tas yang standar untuk mendaki gunung, agar semua barang bawaan bisa masuk dan tersusun rapih dlm tas.
- Pelajari bagaimana cara packing yang benar, agar saat mendaki barang-barang bawaan kita tersusun rapih dan tidak terasa berat saat dibawa.
- Lapisi dalam tas dengan kantung sampah besar/trashbag sebelum packing, agar saat tas basah barang bawaan kita tidak ikut basah.
- Bungkus barang bawaan dengan kantong plastik dan kelompokkan sesuai dengan kebutuhannya, ini bertujuan agar tidak berantakkan serta mempermudah dalam mengambilannya.
Susun dengan benar dari barang yang ringan, sedang hingga yang berat, dari yang paling lebih dulu dibutuhkan sama yang agak lama dibutuhkan.
- Checklist kembali barang bawaan kalian sebelum dimasukkan ke dalam tas, agar tidak ada barang-barang yang tertinggal, terutama barang-barang yang penting.
- Sisipkan biodata lengkap kalian di dalam tas, agar jika terjadii seperti tas tertukar atau tertinggal maka identitas kalian dapat dikenali.
- Dan jangan lupa pula untuk selalu membawa kartu identitas diri kalian, baik fotocopy atau aslinya dan simpan dengan aman.
- Pastikan tubuh kita dalam keadaan sehat/fit saat akan memulai perjalanan.
- Jangan memaksakan diri utk tetap berangkat mendaki jika kondisi tubuh kita sedang sakit atau tidak fit.
"Jangan menomor duakan keselamatan yang hanya karena sebuah ambisi utk menggapai sebuah puncak". Karna ada pepatah, "Lebih Baik Gagal Daripada Pulang Tanpa Nyawa".
- Check pula alat komunikasi kalian apakah sudah terisi dengan pulsa atau belum untuk selalu memberikan kabar dimana posisi dan kondisi kalian pada orang-orang terdekat.
- Dan yang terpenting, Jangan lupa untuk selalu meminta ijin dan doa kepada orangtua agar diberikan keselamatan pergi hingga pulang kembali ke rumah.
- Usahakan untuk tidak melakukan kegiatan pendakian dengan seorang diri (minimal 3orang).
Hal ini agar jika terjadi sesuatu pada kalian, 1orang bertugas melapor ke bawah (pos petugas), 1orang lagi bertugas menemani kalian.
- Tinggalkan pesan pada orang di rumah, kemana dan dengan siapa kalian pergi, serta tinggalkan nomor telepon/hp yang bisa dihubungi selain punya kalian sendiri.
- Ikuti prosedur yang berlaku, mendakilah melalui jalur yang resmi/yang sudah ada. Dan biasakan berdoalah sebelum memulai pendakian.
- Lakukan simaksi/lapor saat tiba dan kembali di pos pendakian, isi form simaksi dengan lengkap, dan taati segala peraturan yang berlaku.
- Jika punya waktu lebih, gunakan hari pertama kalian untuk beradaptasi dengan cuaca/istirahat terlebih dahulu sebelum memulai pendakian.
- Jika pendakian naik turun melalui jalur yang sama, titip barang-barang kalian dipos yang sekiranya barang tersebut hanya dibutuhkan untuk perjalanan pergi dan pulangnya saja.
Cara ini dapat memperingan beban yang kita bawa saat mendaki.
Dan jika memang harus menitip, bungkus dengan rapih barang-barang kalian, sisipkan identias kalian agar tidak tertukar dengan barang milik orang lain.
- Catat pula nama si penerima dan catat waktu saat kita menitipkan barang-barang kita, agar mereka ikut bertanggungjawab atas barang-barang yang kita titip.
Dan pastikan si penerima barang yang kita titip itu adalah petugas atau orang yang biasa ada di pos tersebut.
- Lakukan pula pemanasan kecil sebelum memulai pendakian, agar otot kita tidak tegang saat mendaki.
- Dan jangan lupa untuk selalu berdoa sebelum memulai mendaki agar kita diberi keselamatan selama pendakian.
- Atur ritme perjalanan saat mendaki, istirahatlah jika lelah, jangan memaksakan diri, cari tempat yang aman saat mendirikan tenda.
- Pakailah pakaian yg mudah menyerap keringat, jangan menggunakan jaket saat mendaki.
- Gantilah pakaian kalian saat istirahat dalam tenda, hal ini guna mengurangi rasa dingin yang disebabkan oleh bekas/sisa keringat yang masih melekat pada pakaian kalian saat perjalanan.
- Gunakan selalu sleeping bag jika ingin tidur agar kita lebih nyaman dan nyenyak saat tidur/istirahat.
Sebab hawa dingin seringkali datang menyerang tiba2 di waktu kalian tertidur, dan usahakan perut dalam kondisi terisi dengan makanan sebelum kita tidur.
- Hati-hati jika kalian akan meninggalkan barang-barang dalam tenda saat akan menuju puncak (summit). Pastikan barang-berharga kalian aman.
Sebab telah banyak terjadi kejadian pencurian barang-barang di gunung disaat tenda di tinggal muncak/summit pemiliknya.
- Di harap untuk tidak berlarian saat kondisi turun. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada permukaan tanah/jalur seperti. Karna tekanan kaki saat turun sambil berlari itu memiliki daya tekan pijakan yang lebih berat daripada pijakan dengan berjalan. Hal ini juga sangat mengganggu pendaki lain yang posisinya berlawanan (posisi nanjak). Apalagi jika tanah dalam keadaan kering, apabila kita injak debu-debu pijakan kaki kita akan bertebaran.
- Saling sapalah kalian saat bertemu/berpapasan dengan pendaki lain. Berikan senyum sapa walaupun posisi kita sedang lelah.
- Jika saat turun kita berpapasan dengan pendaki yang sedang naik, prioritaskan mereka untuk lewat/jalan terlebih dahulu.
- Jangan pernah meninggalkan sampah sekecil apapun saat pendakian.
- Dan jangan pernah merusak apa yang ada saat pendakian.
Perlu diingat :
“Alam tak kenal kata kompromi”. Di saat lengah dan takut alam dapat membunuh seorang petualang / pendaki. Seseorang yang profesional sekalipun mempunyai resiko yang sama ketika ia menempatkan dirinya di alam bebas.
Buat perjalanan/pendakian kalian se-safety mungkin agar kalian lebih menikmati perjalanan/pendakiannya.
And .....
"Belajarlah Dahulu Sebelum Mendaki".
#BeberapaTipsSebelumDanSaatMendaki (*)
@PendakiJakarta
Mendaki memiliki filosofi tersendiri. Sebuah perjalanan yang kaya akan pelajaran. Dan mendaki merupakan jalan mengenali dan memperbaiki diri.
Jumat, 18 Maret 2016
Selasa, 23 September 2014
MENGATASI INSOMNIA
BEBERAPA TIPS MENGATASI INSOMIA
* Buatlah waktu tidur dan bangun yang teratur, dan tetap ikuti jadwal ini sekalipun kalian sedang libur. * Gunakan tempat tidur hanya untuk tidur. Bukan untuk membaca, nonton televisi, atau bahkan bekerja. Terlalu lama berada di atas tempat tidur dapat memecah-mecah siklus tidur normal.
* Bila tidak perlu, sebaiknya hindari tidur siang, atau sore.
* Lakukan latihan fisik sebelum makan malam. Latihan fisik yang dilakukan dekat dengan jam tidur malah akan membuat kalian menjadi mudah terjaga.
* Mandi dengan air panas, paling baik dilakukan 1½ – 2 jam sebelum tidur. Hal ini akan mengubah irama suhu inti tubuh dan membantu untuk tertidur lebih mudah dan lebih lama. Hindari mandi beberapa saat sebelum tidur.
* Lakukan aktivitas relaksasi sedikitnya ½ jam menjelang tidur, seperti membaca bahan yang ringan atau meditasi.
* Jaga agar suhu kamar relatif sejuk dan memiliki ventilasi yang baik
* Saat tidur jangan melihat jam berulang kali. Kalian akan mudah terobsesi dengan waktu sehingga justru akan sukar untuk mengantuk.
* Makan malam sebaiknya ringan dan dijadwal sedikitnya 4 – 5 jam sebelum waktu tidur. Kadang-kadang makanan ringan sebelum tidur dapat membantu, namun bila kalian makan banyak sebelum tidur dapat memberi efek sebaliknya.
* Biasakan mendapat sinar matahari pagi sedikitnya ½ jam setiap hari.
* Hindari minum terlalu banyak, terutama yang mengandung kafein, sebelum tidur agar tidur tidak terganggu oleh keinginan untuk buang air kecil.
* Jika kalian masih terjaga setelah 15 atau 20 menit, pergilah ke ruangan lain yang cahayanya redup dan lakukan aktivitas ringan yang tenang. Hindari nonton televisi atau beraktivitas pada ruangan yang terang.
* Metode lain yang juga dapat dilakukan adalah mengubah cara berpikir kalian. Umumnya bila sulit tidur, akan memaksa tidur sambil memejamkan mata dan berulang-ulang berpikir untuk tertidur. Lakukanlah hal sebaliknya!!! tetap buka mata kalian sambil berpikir untuk tetap terjaga (seperti hendak begadang). Kenyataannya, seringkali justru dengan berpikir untuk tetap terjaga, kalian malah akan mengantuk.
Semoga bermanfaat.
@PendakiJakarta
* Buatlah waktu tidur dan bangun yang teratur, dan tetap ikuti jadwal ini sekalipun kalian sedang libur. * Gunakan tempat tidur hanya untuk tidur. Bukan untuk membaca, nonton televisi, atau bahkan bekerja. Terlalu lama berada di atas tempat tidur dapat memecah-mecah siklus tidur normal.
* Bila tidak perlu, sebaiknya hindari tidur siang, atau sore.
* Lakukan latihan fisik sebelum makan malam. Latihan fisik yang dilakukan dekat dengan jam tidur malah akan membuat kalian menjadi mudah terjaga.
* Mandi dengan air panas, paling baik dilakukan 1½ – 2 jam sebelum tidur. Hal ini akan mengubah irama suhu inti tubuh dan membantu untuk tertidur lebih mudah dan lebih lama. Hindari mandi beberapa saat sebelum tidur.
* Lakukan aktivitas relaksasi sedikitnya ½ jam menjelang tidur, seperti membaca bahan yang ringan atau meditasi.
* Jaga agar suhu kamar relatif sejuk dan memiliki ventilasi yang baik
* Saat tidur jangan melihat jam berulang kali. Kalian akan mudah terobsesi dengan waktu sehingga justru akan sukar untuk mengantuk.
* Makan malam sebaiknya ringan dan dijadwal sedikitnya 4 – 5 jam sebelum waktu tidur. Kadang-kadang makanan ringan sebelum tidur dapat membantu, namun bila kalian makan banyak sebelum tidur dapat memberi efek sebaliknya.
* Biasakan mendapat sinar matahari pagi sedikitnya ½ jam setiap hari.
* Hindari minum terlalu banyak, terutama yang mengandung kafein, sebelum tidur agar tidur tidak terganggu oleh keinginan untuk buang air kecil.
* Jika kalian masih terjaga setelah 15 atau 20 menit, pergilah ke ruangan lain yang cahayanya redup dan lakukan aktivitas ringan yang tenang. Hindari nonton televisi atau beraktivitas pada ruangan yang terang.
* Metode lain yang juga dapat dilakukan adalah mengubah cara berpikir kalian. Umumnya bila sulit tidur, akan memaksa tidur sambil memejamkan mata dan berulang-ulang berpikir untuk tertidur. Lakukanlah hal sebaliknya!!! tetap buka mata kalian sambil berpikir untuk tetap terjaga (seperti hendak begadang). Kenyataannya, seringkali justru dengan berpikir untuk tetap terjaga, kalian malah akan mengantuk.
Semoga bermanfaat.
@PendakiJakarta
Senin, 15 September 2014
Pendaki Gunung BUKANLAH hanya Gelar yang cuma untuk Gagah-gagahan dan sekedar Simbol saja".
Banyak hal yang perlu diperhatikan sebelum kita melakukan kegiatan pendakian gunung.
Barang kali ada diantara kita masih ada yang pemula dalam kegiatan pendakian.
Sebelumnya kami mohon maaf, ini tidak ada maksud untuk menggurui, namun ini hanya bentuk tanggung jawab kita untuk saling berbagi ilmu
Semoga ilmunya bermanfaat yaa,, Silahkan disimak...
Milikilah pengetahuan tentang ilmu pendakian sebelum memulai mendaki. Jika kita ingin melakukan pendakian ke suatu tempat namun kita masih merasa kurang pengetahuan, usahakan melakukan perjalanan dengan orang yang sudah pernah ke tempat tersebut/yang lebih berpengalaman. Sebelum kita memulai pendakian, alangkah baiknya kita mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang medan/gunung yang akan kita daki agar bisa menyiapkan segala kebutuhan dan perlengkapan yang dibutuhkan saat pendakian. Dan perlu diingat, "Jangan menomor duakan keselamatan yang hanya karena sebuah ambisi utk menggapai sebuah puncak".
Mendaki gunung itu adalah suatu kegiatan yang keras, penuh petualangan, membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan, dan daya juang yang sangat tinggi dalam melakukannya. Puncak adalah tujuan, tapi bukanlah yang utama. Yang utama adalah prosesnya dalam menggapai sebuah puncak itu sendiri. Pada umumnya orang menganggap bahwa mendaki gunung itu apabila sudah sampai puncaknya, maka itulah yang namanya "Keberhasilan". Nah, "Keberhasilan yang sungguh-sungguh bernilai tinggi" adalah justru apa yang telah di dapat / di pelajari dalam proses pendakiannya, Dan kepuasan terbesar sesungguhnya bukanlah karena kita telah sampai dipuncak gunung tersebut, tetapi karena kita telah melalui tantangan yang terasa begitu berat. Gunung bukanlah untuk di taklukkan, Karena, bukanlah gunung ataupun lautan yang kita taklukan, Tapi, "hawa nafsulah yang harus kita taklukan".
Jangan pernah meremehkan setiap peraturan/tata tertib yang ada di suatu daerah/tempat, walaupun itu kita anggap aneh dan tidak masuk akal. Mendaki itu janganlah hanya sekedar mendaki, ambil dan pahamilah semua pelajaran yang kita dapat saat pendakian, dan terapkanlah dalam kehidupan kita sehari-hari..
Tidak ada seorangpun Pendaki Gunung Sejati yang rela mati konyol saat mendaki, yang hanya dikarenakan minimnya pengetahuan tentang pendakian. Seorang pendaki gunung pada dasarnya menghadapi dua jenis rintangan ketika melakukan kegiatannya. Satu kata dalam berkegiatan di alam terbuka adalah “Alam tak kenal kata kompromi”. Di saat lengah dan takut alam dapat membunuh seorang petualang / pendaki. Seseorang yang profesional sekalipun mempunyai resiko yang sama ketika ia menempatkan dirinya di alam bebas.
Untuk melakukan segala aktivitas apa pun perlu adanya perencanaan yang matang. Begitu pun dalam hal pendakian, perencanaan yang matang perlu sekali dipikirkan sebelum perjalanan pendakian dimulai. Semakin matang kita merencanakannya, maka risiko dalam perjalanan pendakian akan dapat diminimalisasi.
Akhir-akhir ini banyak kejadian kecelakaan dalam kegiatan di alam terbuka yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan maupun keterampilan yang dimiliki oleh para penggiatnya. Sesungguhnya hal ini dapat dihindarkan dengan memberikan pembekalan pengetahuan dan keterampilan sehingga para penggiat kegiatan alam terbuka mempunyai kemampuan yang memadai.
Dalam merencanakan dan melakukan perjalanan, tentunya harus dilakukan persiapan yang baik, sehingga kegiatan dapat dilakukan dengan aman dan nyaman, sehingga dapat pulang dengan selamat. Setiap penggiat juga harus membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan untuk mengatasi kesulitan yang mungkin saja muncul, seperti kecelakaan, sakit, atau tersesat.
Faktor keselamatan (safety) harus dijadikan kerangka berfikir dalam berkegiatan di alam terbuka. Untuk keadaan berbahaya, dapat dilakukan penggolongan faktor penyebabnya, yaitu bahaya subyektif dan bahaya obyektif. Bahaya subyektif adalah potensi bayaha yang berada dibawah kendali manusia yang melakukan kegiatan. Contohnya, minimya pengetahuan tentang kegiatan di alam bebas,pemilihan alat yang salah, cara penggunaan peralatan yang tidak dikuasai dengan baik dan lain-lain. Bahaya obyektif adalah bahaya yang berada di luar kendali manusia, misalnya badai, banjir, panas, dan lain-lain. Semakin subyektif suatu bahaya maka akan semakin dapat diperkirakan terjadinya dan dapat dihindarkan. Sebaliknya, semakin obyektif suatu bahaya maka akan semakin sulit diperkirakan dan sulit dihindarkan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan kegiatan di alam terbuka guna menjadikan kegiatan yang akan dilaksanakan menjadi kegiatan yang tetap mengutamakan kenyamanan serta keselamatan.
Keberhasilan suatu kegiatan di alam terbuka juga ditentukan oleh perencanaan perlengkapan dan perbekalan yang tepat. Dalam merencanakannya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
- Kenalilah jenis medan yang akan dihadapi (misal : hutan, rawa, tebing, dll)
- Tentukanlah tujuan perjalanan (misal : penjelajahan, pelatihan, penelitian, kemanusiaan/SAR, dll)
- Ketahuilah lamanya perjalanan
- Ketahuilah keterbatasan kemampuan fisik untuk membawa
- Perhatikan hal-hal khusus (misal : obat,-obatan tertentu, dsb)
Dari kegiatan penjelajahan kita mengenal beberapa jenis perjalanan yang disesuaikan dengan medannya, yaitu :
- Pendakian Gunung
- Perjalanan Menempuh Hutan Rimba
- Penyusuran Pantai, Sungai atau Rawa
- Penyusuran Gua
- Pelayaran
- Perjalanan Ilmiah
- Perjalanan Kemanusiaan
- Perlengkapan dasar, meliputi : perlengkapan untuk pergerakan, ; perlengkapan untuk memasak, makan, minum ; perlengkapan untuk MCK ; perlengkapan pribadi
- Perlengkapan Khusus, meliputi : perlengapan penelitian (misal: kamera, buku, dan alat-alat khusus lainnya) ; perlengkapan penyusuran sungai (misal : perahu, dayung, pelampung, dll) ; perlengkapan pendakian tebing (misal : tali, carabiner, chock, piton, dsb)
- Perlengkapan tambahan perlengkapan ini dapat dibawa atau tidak, misal : semir, kelambu, gaiter, dll
- Kita harus dibekali dengan kemampuan untuk memilih, mengatur, serta menggunakan perlengkapan dan perbekalan ; kemampuan teknis menggunakan alat bantu perjalanan, seperti peta dan kompas ; kemampuan berkemah (camp craft) seperti membuat bivak dan api. Penguasaan keterampilan ini akan membantu kita mengatur teknik berjalan di gunung hutan, menebas dengan efektif, maupun mengatur konsumsi makan dan minum.
- Diperlukan kemampuan fisik yang baik, sehingga selain diperlukan kondisi tubuh yang sehat, juga diperlukan latihan fisik yang sesuai dengan kegiatan yang akan dilakukan. Misalnya untuk pendakian gunung, latihan fisik naik turun bukit dapat dilakukan dalam persiapan perjalanan, selain itu juga latihan mengangkat beban (ransel).
- Diperlukan mental yang siap untuk menghadapi kegiatan berat di alam. Hal ini tidak dapat diajarkan oleh pelatih, namun harus ditumbuhkan dari dalam diri sendiri. Penguasaan yang baik pada tiga ketrampilan lainnya akan sangat membantu.
- Diperlukan pemahaman yang baik terhadap kondisi alam yang akan dihadapi dan mencakup bagaimana memilih waktu yang tepat untuk melakukan kegiatan dan bagaimana cara mengantisipasi kesulitan yang mungkin terjadi.
Pendaki gunung itu bukanlah hanya gelar yang cuma untuk Gagah-gagahan dan sekedar simbol saja. Karena kesombongan itu bukanlah pada manusia tempatnya dan buat apa kita berbusung dada yang hanya karena kita sebagai anggota pecinta alam dan bahkan mungkin pengetahuan kita pun tentang pendakian belumlah seberapa. Dan mendaki gunung itu jangan hanya asal mendaki, jangan hanya sekedar ikut-ikutan semata-mata karena hanya ingin dinilai bahwa kita adalah pendaki gunung/anak gunung/anggota pecinta alam. Dan jangan karena sebuah film kita jadi ingin langsung merasakan mendaki gunung (korban film). Perlu di ingat bahwa, mendaki gunung itu Nyawalah taruhannya. Karena banyak dari korban yang tewas di gunung disebabkan antara lain karena minimnya pengetahuan tentang pendakian serta menomor satukan ego ketimbang keselamatannya. "Kita ditempa bukan untuk berani mati, tapi kita ditempa untuk berani hidup". Carilah ilmu atau pengetahuan sebanyak mungkin sebelum melakukan kegiatan ini.
Dan satu hal lagi yang wajib dan penting untuk diperhatikan dalam kegiatan di alam bebas adalah masalah "SAMPAH". Sangat super jarang sebuah organisasi/kelompok pecinta alam yang mengupas masalah sampah di gunung saat menyampaikan atau memberikan materi atau pendidikan kepecintaan alaman. Kebanyakan yang ditemui hanyalah sekedar mengingatkan supaya membawa turun kembali sampah saat mengadakan pendakian. Dan sangatlah jarang atau bahkan tidak ada materi tentang sampah atau bahayanya sampah yang diberikan. Kebanyakan pengetahuan tersebut di dapat melalui seminar-seminar tentang kebersihan. Nah, di organisasi saja sudah begitu apalagi yang berasal dari non organisasi/perorangan. Gunung tidaklah sama seperti kota yang memiliki banyak petugas kebersihan. Oleh karena itu kebersihan di gunung/hutan adalah tanggung jawab para pendaki sendiri dan bukanlah tanggung jawab pemerintah ataupun warga setempat. Bermacam-macam gaya kita bisa lakukan di gunung, tapi cuma satu gaya yang sangatlah terpuji dan patut di contoh, yaitu "Membawa sampah turun kembali".
Jangan pernah mempunyai anggapan,"Anggap gunung itu rumah kita sendiri". Sebab biasanya orang yang punya anggapan seperti ini akan berbuat seenaknya saja karena merasa rumahnya sendiri. Untuk membersihkan rumahnya saja sudah ogah-ogahan, gimana untuk membersihkan gunung..??
Anggap diri kita ini adalah tamu, Jika kita menganggap diri kita adalah tamu, maka kita pun akan menghormati tuan rumahnya dan tidak akan seenaknya berbuat. Jadilah tamu yang mempunyai sopan santun, datang memberi salam kepada semua yang di rumah kita sopan santun pulang pun memberi salam, jangan seperti maling, Datang tanpa salam lalu merusak, mencuri, dan lain-lain pulang pun tanpa salam.
Kita pun bertekad untuk menjadi pendaki yang bertanggung jawab dengan limbah/kotoran kita.Selain kita masih ada anak cucu kita yang nantinya juga akan merasakan atau menikmati indahnya alam ini.
Selanjutnya, jika ada yang mencemari bahkan merusak, kewajiban kita adalah untuk saling mengingatkan. Dengan mengingatkan saja itu merupakan bentuk kepedulian kita untuk dirinya, lingkungan dan warga. Marilah kita berlomba-lomba untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Perlu di ingat:
"Gunung bukanlah tempat sampah"
Marilah kita mulai dari diri kita masing-masing, tanamkanlah rasa kepedulian kita yang tinggi terhadap kebersihan alam ini, sebab : "KITA TIDAK BISA MEMUSNAHKAN SAMPAH HINGGA TUNTAS, TAPI KITA HANYA BISA MENGURANGINYA ATAS KESADARAN DARI DIRI KITA MASING-MASING".
"Bawalah turun kembali sampah kalian saat melakukan pendakian".
Janganlah jadi pendaki yang hanya menikmati keindahan alamnya saja dan tidak memperhatikan / memperdulikan kebersihannya. Buktikan bahwa kita adalah pendaki profesional yang mendaki tidaklah asal mendaki.
3 Etika yang merupakan prinsip dasar dalam kegiatan petualangan yaitu :
*Take Nothing But Picture
*Leave Nothing But Footprint
*Kill Nothing But Time.
Oh alam,,, engkau adalah korban keangkuhan,, Maafkan mereka yang merusak, mencorat-coret, mengotori dirimu... mereka adalah orang-orang yang tak mengerti akan arti kehidupan..
Manusia yang baik adalah manusia yang tidak merusak lingkungan....!!!
by: @PendakiJakarta
Picture Cc: @Trashbagcomm
Rabu, 03 September 2014
Pendaki Harus Bisa Mandiri
PENDAKI SELALU BERUSAHA BERDIRI SENDIRI TANPA HARUS BELAS KASIH ORANG LAIN
Menaklukkan puncak gunung bukanlah tujuan utama dan bukan pula tujuan satu-satunya dari sebuah pendakian. Mendaki gunung itu bukan untuk menaklukkan alam/gunung, tetapi justru untuk menaklukkan diri sendiri. Dengan menghancurkan ego pribadi, seorang pendaki sejati bisa berdamai dan bersahabat dengan dirinya sendiri. Puncak yang paling tinggi dari pendakian itu adalah menaklukkan ego, kemanjaan, serta sifat individualis. Makna sebuah pendakian itu sendiri bukanlah hanya untuk mengejar sebuah puncak gunung yang sedang didaki. Pencapaian puncak tertinggi akan lebih bermakna jika sampai ke puncak bersama dengan rombongan walau dalam keadaan susah dan senang.
Menaklukkan puncak gunung bukanlah tujuan utama dan bukan pula tujuan satu-satunya dari sebuah pendakian. Mendaki gunung itu bukan untuk menaklukkan alam/gunung, tetapi justru untuk menaklukkan diri sendiri. Dengan menghancurkan ego pribadi, seorang pendaki sejati bisa berdamai dan bersahabat dengan dirinya sendiri. Puncak yang paling tinggi dari pendakian itu adalah menaklukkan ego, kemanjaan, serta sifat individualis. Makna sebuah pendakian itu sendiri bukanlah hanya untuk mengejar sebuah puncak gunung yang sedang didaki. Pencapaian puncak tertinggi akan lebih bermakna jika sampai ke puncak bersama dengan rombongan walau dalam keadaan susah dan senang.
3 prinsip bagi para pendaki, yaitu;
1) Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar
2) Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak
3) Jangan membunuh sesuatu kecuali waktu.
3 hal itulah yang selalu tertanam di benak & sanubari sang pendaki sejati. Sehingga mereka menjadi pribadi yang santun & pengertian. Jika tidak, maka patutlah kita mengatakan bahwa ia bukanlah seorang pendaki, tapi ia hanyalah seorang "pecundang".
Jadilah Pendaki Sejati yang benar-benar menjunjung tinggi nilai-nilai Kode Etik dan Prinsip/Etika Pecinta Alam. Mendaki gunung itu adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama. Para pendaki bukanlah orang-orang yang tak berguna.Tetapi mereka adalah jiwa2 yang tulus dan penuh rasa menghargai.
Dan tidaklah mudah untuk bisa menjadi salah satu dari mereka. Karena di butuhkan orang2 yg memiliki perasaan yg sama tentang alam semesta, yaitu cinta. Prinsip seorang pendaki adalah, bahwa ketika kita peduli dengan alam, berarti kita telah peduli dengan kehidupan. Dalam sikap yang peduli dengan kehidupan itu, maka kita pun bisa lebih peduli dengan saudara, tetangga, bahkan musuh kita sendiri.
Mendaki gunung adalah suatu kegiatan yang keras, penuh petualangan, membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan, dan daya juang yg tinggi. Gunung dengan segala aspeknya merupakan lingkungan yang asing bagi organ tubuh kita, lebih-lebih bagi mereka yang hidup di dataran rendah. Itulah sebabnya mengapa kita memerlukan perlengkapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan di gunung. Bahaya dan tantangan yang seakan hendak mengungguli, merupakan daya tarik dari kegiatan ini.
Pada hakekatnya bahaya dan tantangan tersebut adalah menguji kemampuan dirinya untuk bersekutu dengan alam yang keras. Perlengkapan yang baik adalah salah satu usaha untuk mengurangi bahaya di gunung, baik obyek maupun subyek. Keberhasilan suatu pendakian yang sukar dan sulit brarti keunggulan terhadap rasa takut dan kmenangan thdp perjuangan mlawan dirinya sendiri.
Jangan remehkan peraturan-peraturan yang ada di suatu daerah / tempat, walaupun itu kita anggap tidaklah masuk akal.
Kalo akhir-akhir ini terlansir berita mengenai kecelakaan di gunung, dan kesalahan banyak dilakukan oleh si pendaki itu sendiri. Tidak ada seorangpun Pendaki Sejati yang rela mati konyol saat mendaki, yang hanya dikarenakan minimnya pngetahuan ttg pendakian.
Satu kata dalam berkegiatan di alam terbuka, yaitu :
“Alam Tak Kenal Kata Kompromi”.
Seseorang yang profesional sekalipun mempunyai resiko yang sama ketika ia menempatkan dirinya di alam bebas. Di saat lengah dan takut alam dapat membunuh seorang petualang/pendaki.
Utamakan keselamatan dan kebersihan di setiap pendakian.
@Pendaki Jakarta
1) Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar
2) Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak
3) Jangan membunuh sesuatu kecuali waktu.
3 hal itulah yang selalu tertanam di benak & sanubari sang pendaki sejati. Sehingga mereka menjadi pribadi yang santun & pengertian. Jika tidak, maka patutlah kita mengatakan bahwa ia bukanlah seorang pendaki, tapi ia hanyalah seorang "pecundang".
Jadilah Pendaki Sejati yang benar-benar menjunjung tinggi nilai-nilai Kode Etik dan Prinsip/Etika Pecinta Alam. Mendaki gunung itu adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama. Para pendaki bukanlah orang-orang yang tak berguna.Tetapi mereka adalah jiwa2 yang tulus dan penuh rasa menghargai.
Dan tidaklah mudah untuk bisa menjadi salah satu dari mereka. Karena di butuhkan orang2 yg memiliki perasaan yg sama tentang alam semesta, yaitu cinta. Prinsip seorang pendaki adalah, bahwa ketika kita peduli dengan alam, berarti kita telah peduli dengan kehidupan. Dalam sikap yang peduli dengan kehidupan itu, maka kita pun bisa lebih peduli dengan saudara, tetangga, bahkan musuh kita sendiri.
Mendaki gunung adalah suatu kegiatan yang keras, penuh petualangan, membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan, dan daya juang yg tinggi. Gunung dengan segala aspeknya merupakan lingkungan yang asing bagi organ tubuh kita, lebih-lebih bagi mereka yang hidup di dataran rendah. Itulah sebabnya mengapa kita memerlukan perlengkapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan di gunung. Bahaya dan tantangan yang seakan hendak mengungguli, merupakan daya tarik dari kegiatan ini.
Pada hakekatnya bahaya dan tantangan tersebut adalah menguji kemampuan dirinya untuk bersekutu dengan alam yang keras. Perlengkapan yang baik adalah salah satu usaha untuk mengurangi bahaya di gunung, baik obyek maupun subyek. Keberhasilan suatu pendakian yang sukar dan sulit brarti keunggulan terhadap rasa takut dan kmenangan thdp perjuangan mlawan dirinya sendiri.
Jangan remehkan peraturan-peraturan yang ada di suatu daerah / tempat, walaupun itu kita anggap tidaklah masuk akal.
Kalo akhir-akhir ini terlansir berita mengenai kecelakaan di gunung, dan kesalahan banyak dilakukan oleh si pendaki itu sendiri. Tidak ada seorangpun Pendaki Sejati yang rela mati konyol saat mendaki, yang hanya dikarenakan minimnya pngetahuan ttg pendakian.
Satu kata dalam berkegiatan di alam terbuka, yaitu :
“Alam Tak Kenal Kata Kompromi”.
Seseorang yang profesional sekalipun mempunyai resiko yang sama ketika ia menempatkan dirinya di alam bebas. Di saat lengah dan takut alam dapat membunuh seorang petualang/pendaki.
Utamakan keselamatan dan kebersihan di setiap pendakian.
@Pendaki Jakarta
Selasa, 02 September 2014
Berpetualang Di Alam Bebas
Berpetualang Di Alam Bebas Itu Tak Cuma "Having Fun"
Indonesia memiliki tekstur alam yang lengkap, mulai pantai, gunung, sungai, dan danau. Masing-masing tempat tersebut memiliki ciri khas masing-masing. Contohnya, pantai berpasir putih di Anyer, taman edelweis di Gn. Papandayan, atau kawah di Gn. Tangkuban Perahu.
Warna-warni alam ini yang sangat mendukung kegiatan para petualang. Anda cukup memilih ingin menjelajah ke daerah mana. Hal ini pula yang menjadi daya tarik turis mancanegara untuk berwisata ke tanah air. Begitu banyak pilihan tempat yang kita tawarkan.
Hobi bertualang ternyata tidak sekedar mencari kesenangan. Tahukah Anda, begitu banyak manfaat yang bisa didapat dari aktivitas ini.
Pertama, melatih manajemen diri. Kegiatan semisal mendaki gunung bukanlah aktivitas yang serta-merta dapat langsung Anda lakukan. Saat sarapan Anda terpikir untuk mendaki sebuah gunung, dan siangnya langsung berangkat. Tentu tidak bisa seperti itu. Terlalu banyak resiko yang akan terjadi.
Kegiatan di alam bebas termasuk mengandung bahaya, sehingga dibutuhkan perencaaan yang matang. Bukan hanya perencanaan, karena fungsi manajemen mencakup Planning (perencanaan), Organizing (mengorganisasi), Actuating, dan Controlling.
Perencanaan dimulai dengan menentukan tujuan Anda kemana, waktunya kapan, dan berapa lama. Dari tiga poin ini, Anda dapat mengukur kebutuhan operasi (pergerakan), perbekalan, logistik, transportasi, administrasi, dan pembiayaan. Semakin berat medan yang dituju, maka semakin rumit pula perencanaannya.
Organizing dilakukan setelah Anda membuat perencanaan. Bagilah tugas bersama tim, dan usahakan menjalankannya dengan komitmen. Siapa yang bertanggung jawab masalah perbekalan, administrasi, bendahara, dll harus melaksanakan tugas secara profesional. Dengan mengorganisasi, diharapkan Anda dan tim lebih siap melakukan perjalanan.
Kemudian, Anda tinggal melakukan perjalanan sesuai dengan daftar operasi yang sudah dibuat. Bila ada perbedaan, contohnya biaya bus lebih mahal, bisa dijadikan catatan. Siapa tahu bisa menjadi bahan referensi untuk perjalanan selanjutnya ataupun kerabat Anda.
Operasi ini juga didukung oleh fungsi controlling, agar perjalanan semakin sesuai dengan perencanaan. Bila sesuai, tentu saja perjalanan akan lebih aman dan menyenangkan. Bahaya yang mengancam, seperti hujan, dingin, dan track yang berat, sudah terprediksi. Itulah manfaat kegiatan alam bebas dalam hal melatih manajemen.
Kedua, menumbuhkan sikap-sikap positif. Mulai dari segi manajemennya, Anda sudah dilatih untuk bersikap tanggung jawab, konsisten, dan kooperatif. Lebih lanjut, ketika sudah terjun melakukan kegiatan, diharapkan Anda mempunyai sikap berani, kreatif, dan sigap.
Berani berarti hati yang mantap disertai rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya dan kesulitan. Bahaya dan kesulitan tersebut tentu saja yang masih dalam batas ‘bisa ditangani’.
Memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk menciptakan, atau membuat sesuatu yang beda. Itulah makna kreatif, yang juga dapat dilatih dengan berkegiatan di alam bebas. Contohnya, Anda bisa menggunakan daun pisang untuk alas makan, ataupun Anda dapat membuat alas empuk dari rerumputan untuk alas tidur.
Kondisi alam yang tidak bisa terprediksi, semisal langit yang cerah tiba-tiba hujan, tentu menuntut penanganan. Hal inilah yang melatih kesigapan. Sigap mengandung makna tangkas, cepat, dan kuat.
Pada akhirnya, semua sikap yang Anda bentuk dari kegiatan di alam bebas diharapkan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga, menyalurkan hobi. Anda dapat mensinergikan hobi dengan kegiatan bertualang. Contoh, sambil melakukan perjalanan Anda melatih minat fotografi, menulis (puisi, pengalaman, berpen), atau melukis. Kaum hawa pun bisa menyalurkan hobi memasaknya dalam suasana yang lebih asri. Pasti mengasyikan melakukan hobi di alam terbuka.
Anda yang memiliki jiwa seni, tentu saja senang menghabiskan waktu di luar ruangan. Inspirasi kerap muncul dari warna-warni alam. Lakukanlah penghayatan, dan selanjutnya pikiran Anda akan terstimulasi untuk menciptakan sesuatu.
Keempat, lebih mengetahui diri. Secara fitrah, manusia adalah makhluk individu juga makhluk sosial, yang artinya Anda tidak bisa hidup tanpa orang lain. Namun, ada kalanya Anda butuh waktu untuk berinteraksi dengan diri sendiri.
Semilir angin pantai, sejuk hijaunya pepohonan, dan gemericik air sungai mampu membawa suasana yang menyenangkan. Hal ini tentu saja berpengaruh positif bagi jiwa. Anda pun dapat berinteraksi dengan diri sendiri dalam situasi ini. Biarkan pengalaman masa lalu menjadi halaman awal buku yang kembali Anda buka. Coba renungkan segala pencapaian dan kegagalan yang Anda alami. Selanjutnya, Anda dapat menghasilkan energi positif untuk menghadapi hari esok.
Selain dari segi batiniah, Anda juga dapat mengetahui diri secara lahiriah (fisik). Seberapa jauh kekuatan kaki Anda melangkah, berapa kuat Anda menanggung beban ransel, atau berapa jauh Anda dapat berenang. Selanjutnya, Anda akan mencoba untuk menjalani petualangan sekuat mungkin.
Pada akhirnya, pengenalan fisik diri sendiri membawa Anda kepada pola hidup yang lebih sehat. Karena merasa kurang atau ingin menambah kemampuan, Anda akan terdorong untuk melatih tubuh.
Kelima, membentuk kecintaan terhadap lingkungan. Setelah bertualang, ada sebuah keinginan untuk Anda kembali ke tempat ini, ataupun merekomendasikannya kepada kerabat. Anda kemudian merasa terpanggil untuk menjaga alam, minimal tidak membuang sampah sembarangan. Sikap ini tidak hanya bermanfaat untuk alam dan Anda sendiri, tetapi juga orang lain yang turut serta menikmati keasriannya.
Kecintaan terhadap lingkungan bukanlah hal yang remeh. Lihat saja kondisi kota-kota besar yang sekarang semakin menjemukan. Motor, mobil, dan bus memenuhi jalan, mengepulkan CO2. Rumah-rumah saling berhimpitan. Lahan hijau pun menipis, termasuk pula tempat pembuangan sampah yang ideal. Parahnya, sampah dapat dibuang dimana saja sesuka hati. Tidak ada aturan yang diaplikasikan dengan tegas.
Jangan heran bila banjir kerap tiba. Sampah telah menyumbat saluran pembuangan, sehingga air hujan pun menggenang. Sistem respirasi tanah tidak berjalan, karena tanahnya sudah berganti dengan aspal. Oleh karena itu, sikap cinta terhadap lingkungan penting adanya. Hal ini berguna untuk menjaga kelestarian alam yang berdampak pada kehidupan manusia.
Itulah 5 manfaat bertualang di alam bebas. So, kapan Anda akan memulai petualangan?
@PendakiJakarta
Sabtu, 30 Agustus 2014
Menentukan Arah Pada Peta Serta Tanda-Tanda Alam
Menentukan Arah Pada Peta dan Tanda-Tanda Alam
Peta merupakan
alat bantu yang kita gunakan untuk mengetahui atau mempelajari kondisi
lapangan suatu wilayah. Kita dapat mengetahui bahwa pada peta terdapat
beberapa informasi yang bisa kita dapatkan dan kita baca. Salah satu
faktor yang dapat kita baca pada peta adalah penunjuk arah mata angin.
Membaca arah pada
peta merupakan pekerjaan yang mudah, kita cukup memperhatikan komponen
wajib pada suatu peta yaitu orientasi/penunjuk arah. Orientasi/penunjuk
arah merupakan komponen peta yang dapat kita amati dari bentuknya yang
bervariasi, tetapi pada dasarnya sama.
Simbol
orientasi/penunjuk arah pada peta umumnya berupa simbol dengan gambar 4
sudut bintang yang setiap sudutnya menginformasikan arah mata angin.
Pada umumnya yang tertulis adalah arah Utara atau biasa disimbolkan
dangan huruf U atau N (north) di atas tanda penunjuk arah.
Menentukan arah
pada peta bukanlah pekerjaan yang sulit, tetapi menentukan arah pada
peta kemudian mengaplikasikannya dengan kondisi di lapangan kadang akan
sulit. Karena kadang kala kita akan mengalami posisi “bingung arah” di
tempat-tempat tertentu, terutama tempat-tempat yang baru sekali atau
jarang kita datangi.
Pada saat kita
mengalaminya kadang kita sudah merasa benar menghadap ke arah mana,
tetapi ternyata kita malah menghadap ke arah yang salah. Misal kita
sudah mengarah ke timur tetapi perasaan kita menghadap utara dll.
Lalu bagaimana cara
mengatasi masalah tersebut? Ada banyak cara dapat kita gunakan untuk
menentukan arah di lapangan. Cara-cara ini merupakan cara yang dapat
kita gabung atau cara merupakan media alternatif jika ada kesulitan
dalam menggunakannya, antara lain :
1. Cara yang mudah
pertama kali adalah menggunakan kompas. Pada kompas terdapat jarum dan
busur penunjuk arah yang akan selalu mengarahkan jarum ke arah utara dan
selatan, sehingga dengan alat ini maka kita akan dapat menentukan arah
yang lain. Yang menjadi permasalahan adalah kita tidak selalu
menggunakan/membawa kompas, jika kita tidak membawa kompas maka bisa
menggunakan alam sekitar kita sebagai media untuk menentukan arah.
![]() |
| Kompas Silva |
![]() |
| Kompas brunton |
2. Melihat posisi
matahari, posisi matahari terbit di daerah tropis menunjukkan arah timur
dan posisi tenggelam menunjukkan arah barat. Melihat posisi matahari
hanya bisa digunakan pada siang hari dan efektif pada waktu pagi dan
sore hari. Pada pertengahan kita agak kesulitan menentukan arah karena
matahari tepat di atas kita.
![]() |
| Matahari pagi terbit di timur. |
3. Melihat bangunan
rumah ibadah terutama masjid. Pada umumnya bangunan masjid di Indonesia
mengarah ke barat atau kiblat masjid akan menunjukkan arah timur dan
barat, sehingga kita akan dengan mudah menentukan arah yang lain.
![]() |
| Arah kiblat masjid. |
4. Pada malam hari
kita dapat melihat ke langit dan mencari rasi bintang yang ada. Sebagai
contoh rasi bintang Pari/crux menunjukkan arah selatan. Selain rasi
bintang pari ada juga rasi bintang Biduk yang menunjukkan arah utara,
rasi bintang Orion yang menunjukkan arah barat dan rasi bintang Scorpio
yang menunjukkan arah tenggara.
![]() |
| Rasi bintang pari/crux, menunjukkan arah selatan |
![]() |
| Rasi Bintang Orion, menunjukkan arah barat |
![]() |
| Rasi Bintang Biduk, menunjukkan arah utara |
![]() |
| Rasi Bintang Scorpio, menunjukkan arah tenggara |
5. Lumut pada
batang pohon. Lumut yang tebal pada batang pohon yang tegak menunjukkan
arah matahari terbit, sedangkan lumut yang lebih tipis menunjukkan arah
matahari tenggelam.

Salam Lestari
@PendakiJakarta
Selasa, 19 Agustus 2014
MOUNTAINEERING
MOUNTAINEERING
Secara bahasa arti kata Mountaineering adalah teknik mendaki gunung. Ruang lingkup kegiatan Mountaineering sendiri meliputi kegiatan sebagai berikut :
1. Hill Walking/Hiking
Hill walking atau yang lebih dikenal sebagai hiking adalah sebuah kegiatan mendaki daerah perbukitan atau menjelajah kawasan bukit yang biasanya tidak terlalu tinggi dengan derajat kemiringan rata-rata di bawah 45 derajat. Dalam hiking tidak dibutuhkan alat bantu khusus, hanya mengandalkan kedua kaki sebagai media utamanya. Tangan digunakan sesekali untuk memegang tongkat jelajah (di kepramukaan dikenal dengan nama stock atau tongkat pandu) sebagai alat bantu. Jadi hiking ini lebih simpel dan mudah untuk dilakukan.
Level berikutnya dalam mountaineering adalah scrambling. Dalam pelaksanaannya, scrambling merupakan kegiatan mendaki gunung ke wilayah-wilayah dataran tinggi pegunungan (yang lebih tinggi dari bukit) yang kemiringannya lebih ekstrim (kira-kira di atas 45 derajat). Kalau dalam hiking kaki sebagai ‘alat’ utama maka untuk scrambling selain kaki, tangan sangat dibutuhkan sebagai penyeimbang atau membantu gerakan mendaki. Karena derajat kemiringan dataran yang lumayan ekstrim, keseimbangan pendaki perlu dijaga dengan gerakan tangan yang mencari pegangan. Dalam scrambling, tali sebagai alat bantu mulai dibutuhkan untuk menjamin pergerakan naik dan keseimbangan tubuh.
Berbeda dengan hiking dan scrambling, level mountaineering yang paling ekstrim adalah climbing! Climbing mutlak memerlukan alat bantu khusus seperti karabiner, tali panjat, harness, figure of eight, sling, dan sederetan peralatan mountaineering lainnya. Kebutuhan alat bantu itu memang sesuai dengan medan jelajah climbing yang sangat ekstrim. Bayangkan saja, kegiatan climbing ini menggunakan wahana tebing batu yang kemiringannya lebih dari 80 derajat!
Secara garis besarnya untuk melakoni mountaineering pastikan tubuh kalian dalam kondisi sehat, fit, dan stamina oke. Untuk itu olahraga teratur sangat mutlak. Selain itu, kau harus bebas dari semua phobia akan hal-hal yang berkaitan dengan tempat-tempat tinggi dan punya kesiapan rencana yang mantap!
Peralatan dasar kegiatan alam bebas seperti ransel, vedples (botol air), sepatu gunung, pakaian gunung, tenda, misting (rantang masak outdoor), kompor lapangan, topi rimba, peta, kompas, altimeter, pisau, korek, senter, alat tulis, dan matras mutlak dibutuhkan selain alat bantu khusus mountaineering seperti tali houserlite/kernmantel, karabiner, figure of eight, sling, prusik, bolt, webbing, harness, dan alat bantu khusus lainnya yang dibutuhkan sesuai level kegiatannya.
2. Climbing
Climbing adalah olah raga panjat yang dilakukan di tempat yang curam atau tebing. Tebing atau jurang adalah formasi bebatuan yang menjulang secara vertikal. Tebing terbentuk akibat dari erosi. Tebing umumnya ditemukan di daerah pantai, pegunungan dan sepanjang sungai. Tebing umumnya dibentuk oleh bebatuan yang yang tahan terhadap proses erosi dan cuaca.
Di dalam arti yang sebenarnya climbing itu panjat tebing. Tetapi banyak pula orang mengartikan bukan hanya panjat saja dalam kegiatan climbing ini melainkan juga Repling (turun tebing), Pursiking (naik tebing dengan menggunakan tali pursik) dan lain-lain.
Biasanya orang melakukan pemanjatan tebing ini dilakukan dengan konsentrasi yang tinggi, kekuatan tangan, kekuatan kaki, keseimbangan tubuh dijadikan tolak ukur dalam melakukan pemanjatan ini. Panjat tebing bukan hanya di alam tetapi kita bisa di tebing buatan (woll-climbing).
Dalam divisi climbing ini sangatlah mengharapkan peran lembaga STTA dalam melancarkan kegiatannya, yaitu adanya pembuatan woll-climbing. Didalam pembuatan wool-climbing memang memerlukan dana yang cukup besar. Maka dari itu Palastta mengharapkan kerjasama dari pihak manapun untuk dapat bekerja sama dalam pembuatan wool-climbing ini.
3. Rock Climbing
Rock Climbing adalah olah raga fisik dan mental yang mana selalu membutuhkan kekuatan, keseimbangan, kecepatan, ledakan-ledakan tenaga yang didukung dengan kemampuan mental para pelakunya. Ini adalah kegiatan yang sangat berbahaya dan dibutuhkan pengetahuan dan latihan. Olah raga ini juga menggunakan alat-alat panjat yang sangat krusial dan rawan, tetapi dengan teknik dan pengetahuan yang benar, olah raga ini sangat aman untuk dilakukan.
4. Ice and Snow Climbing
Ice and Snow Climbing adalah olah raga fisik dan mental yang mana selalu membutuhkan kekuatan, keseimbangan, kecepatan, ledakan-ledakan tenaga yang didukung dengan kemampuan mental para pelakunya. Ini adalah kegiatan yang sangat berbahaya dan dibutuhkan pengetahuan dan latihan. Olah raga ini juga menggunakan alat-alat panjat yang sangat krusial dan rawan, tetapi dengan teknik dan pengetahuan yang benar, olah raga ini sangat aman untuk dilakukan.
ALAT CLIMBING
1. Tali Pendakian
Fungsi utamanya dalam pendakian adalah sebagai pengaman apabila jatuh.Dianjurkan jenis-jenis tali yang dipakai hendaknya yang telah diuji oleh UIAA, suatu badan yang menguji kekuatan peralatan-peralatan pendakian. Panjang tali dalam pendakian dianjurkan sekitar 50 meter, yang memungkinkan leader dan belayer masih dapat berkomunikasi. Umumnya diameter tali yang dipakai adalah 10-11 mm, tapi sekarang ada yang berkekuatan sama, yang berdiameter 9.8 mm.
Ada dua macam tali pendakian yaitu :
• Static Rope, tali pendakian yang kelentirannya mencapai 2-5 % fari berat maksimum yang diberikan. Sifatnya kaku, umumnya berwarna putih atau hijau. Tali static digunakan untuk rappelling.
• Dynamic Rope, tali pendakian yang kelenturannya mencapai 5-15 % dari berat maksimum yang diberikan. Sifatnya lentur dan fleksibel. Biasanya berwarna mencolok (merah, jingga, ungu).
2. Carabiner
Adalah sebuah cincin yang berbentuk oval atau huruf D, dan mempunyai gate yang berfungsi seperni peniti. Ada 2 jenis carabiner :
• Carabiner Screw Gate (menggunakan kunci pengaman).
• Carabiner Non Screw Gate (tanpa kunci pengaman)
3. Sling
Sling biasanya dibuat dari tabular webbing, terdiri dari beberapa tipe. Fungsi sling antara lain :
• sebagai penghubung
• membuat natural point, dengan memanfaatkan pohon atau lubang di tebing.
• Mengurangi gaya gesek / memperpanjang point
• Mengurangi gerakan (yang menambah beban) pada chock atau piton yang terpasang.
4. Descender
Sebuah alat berbentuk angka delapan. Fungsinya sebagai pembantu menahan gesekan, sehingga dapat membantu pengereman. Biasa digunakan untuk membelay atau rappelling.
5. Ascender
Berbentuk semacam catut yang dapat menggigit apabila diberi beban dan membuka bila dinaikkan. Fungsi utamanya sebagai alat Bantu untuk naik pada tali.
6. Harnes / Tali Tubuh
Alat pengaman yang dapat menahan atau mengikat badan. Ada dua jenis hernas Seat Harnes, menahan berat badan di pinggang dan paha.Body Harnes, menahan berat badan di dada, pinggang, punggung, dan paha.Harnes ada yang dibuat dengan webbning atau tali, dan ada yang sudah langsung dirakit oleh pabrik.
7. Sepatu
Ada dua jenis sepatu yang digunakan dalam pemanjatan :
• Sepatu yang lentur dan fleksibel. Bagian bawah terbuat dari karet yang kuat. Kelenturannya menolong untuk pijakan-pijakan di celah-cleah.
• Sepatu yang tidak lentur/kaku pada bagian bawahnya. Misalnya combat boot. Cocok digunakan pada tebing yang banyak tonjolannya atau tangga-tangga kecil. Gaya tumpuan dapat tertahan oleh bagian depan sepatu.
8. Anchor (Jangkar)
Alat yang dapat dipakai sebagai penahan beban. Tali pendakian dimasukkan pada achor, sehingga pendaki dapat tertahan oleh anchor bila jatuh. Ada dua macam anchor, yaitu :
• Natural Anchor, bias merupakan pohon besar, lubang-lubang di tebing, tonjolan-tonjolan batuan, dan sebagainya.
• Artificial Anchor, anchor buatan yang ditempatkan dan diusahakan ada pada tebing oleh si pendaki. Contoh : chock, piton, bolt, dan lain-lain
Mental, keterampilan, kecerdasan, kekuatan dan daya juang tinggi bagi seorang pendaki merupakan suatu factor penentu dalam aktivitasnya, hal ini disebabkan karena tantangan yang dihadapi mempunyai kualitas sendiri. Kemampuan Navigasi Darat (Peta dan Kompas) serta survival adalah pelajaran yang harus dikuasai.
Pada hakikatnya tantangan dan resiko yang dihadapi merupakan ujian untuk melihat kemampuan diri di tengah kerasnya kehidupan alam, kendala yang dihadapi dalam sebuah perjalanan pendakian berarti keunggulan terhadap rasa takut dan kemenangan perjuangan atas diri sendiri.
JENIS PENDAKIAN
Mendaki gunung mempunyai tingkat dan klasifikasi yang berbeda. Seperti yang selalu kita dengar dengan istilah mountaineering atau istilah lainnya mencakup pengertian perjalanan melintasi bukit hingga ekspedisi ke himalaya, padahal menurut bentuk dan jenis medan yang dihadapi mountaineering terbagi dalam 3 bagian yaitu :
1.Hill Walking/ Fell Walking
Perjalanan mendaki bukit atau gunung-gunung yang relative landai, tanpa membutuhkan peralatan tekhnis, hal utama dalam pendakian ini adalah jaluratau route yang tersedia.misal : perjalanan ke puncak gede
2.Scrambling
Tahap pendakian pada permukaan yang tidak terjal, namun tangan digunakan untuk keseimbangan. Bagi pemula tali sebaiknya dipasang untuk pengaman sekaligus mempermudah perjalanan. Contoh : perjalanan kesekitar gunung gede bila melalui gerbang cibodas.
3.Climbing
Kegiatan pendakian ini membutuhkan penguasaan tekhnik dan penguasaan peralatan. Climbing dibagi 2 macam :
a. Rock climbing yaitu pendakian yang berkisar pada pemanjatan tebing batu yang cukup terjal.
b. Ice Climbing yaitu pemanjatan pada dinding yang permukaannya tertutup salju dan es. Dalam hal ini sangat dibutuhkan peralatan khusus, seperti : ice axe, crampon, ice screw, dll.
- Montaineering
Merupakan gabungan perjalanan dari semua perjalanan di atas. Bisa berhari-hari, berminggu- minggu, bahkan berbulan-bulan. Disamping penguasaan tekhnik mendaki, hal lain yang perlu diperlukan untuk dikuasai adalah menajemen ekspedisi, pengaturan makanan, komunikasi, strategi pendakian dan lainnya contoh : Ekspedisi ke Himalaya.
KLASIFIKASI PENDAKIAN
Klasifikasi pendakian berdasarkan pada tingkat kesulitan medan yang dihadapi
(menurut sierra club)
Kelas 1
Berjalan tegak tanpa memerlukan perlengkapan yang khusus (walking).
Kelas 2
Medan agak sulit, sehingga perlengkapan kaki yang memadai dan penggunaan tangan pembantu keseimbangan sangat diperlukan (scrambling)
Kelas 3
Medan semakin sulit sehingga dibutuhkan tekhnik pemanjatan tertentu, namun tali pengaman belum dibutuhkan (climbing).
Kelas 4
Kesulitan bertambah tali pengaman piton untuk dibutuhkan (exposed climbing)
Kelas 5
Rute yang dialui sulit, namun peralatan (tali,sling, piton,dll) masihberfungsi sebagai pengaman (difficult free climbing).
Kelas 6
Tebing tidak lagi memberikan pegangan, celah, ronggaatau daya geser yangdiperlukan untuk memanjat. Pendakian sepenuhnya bergantung pada peralatan (aided climbing).
Via: @PendakiJakarta
Langganan:
Postingan (Atom)






















