Minggu, 03 April 2016

HYPOTERMIA

APA ITU HIPOTERMIA..??

Berikut ini saya mencoba mengulas tentang Hipotermia.
HIPOTERMIA sebuah keadaan yang sangat berbahaya bagi Pendaki ketika berada di gunung. Dimana hampir 70% korban meninggal dunia di gunung yang ditemukan disebabkan oleh hipotermia. Mari simak selengkapnya :

Hipotermia adalah suatu kondisi dimana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin. Hipotermia juga dapat didefinisikan sebagai suhu bagian dalam tubuh di bawah 35°C.
Hipotermia adalah keadaan seseorang dimana kehilangan panas tubuh secara drastis. Bagaimana tubuh menjaga panas untuk mencapai suhu normal.,,?!
Jawabannya melalui pencernaan makanan. Karena pencernaan makanan adalah unsur utama yang menghasilkan panas. Melalui pencernaan makanan tersebut akan menghasilkan kalori yang dapat diubah menjadi tenaga.
Seseorang memerlukan 2.000 kalori setiap hari untuk menghasilkan tenaga yang cukup. Bagi pendaki gunung, kalori yang dibutuhkan ketika menjalankan kegiatannya harus lebih, yaitu sekitar 5.000 kalori. Aktifitas fisik yang berat dan biasanya dilakukan dalam tempo yang lama, menyebabkan pendaki gunung memerlukan sumber energi itu dalam jumlah yang jauh lebih besar dari pada kebutuhan sehari-hari. Panas tubuh juga dapat dijaga dengan bantuan dari luar tubuh itu sendiri. Ini dapat diperoleh dengan memasukan makanan dan minuman panas, sinar matahari, api, atau panas tubuh dari orang lain.
Cara lain adalah melalui aktifitas otot, yaitu dengan gerakan tubuh mengigil. Menggigil, gerak yang terjadi tanpa dikehendaki, sebenarnya adalah usaha tubuh untuk menghasilkan panas. Sebaiknya melakukan gerak - gerak atau lari - lari kecil untuk mendapatkan panas tubuh kembali.

Lalu, bagaimana tubuh bisa kehilangan panas.,,?!
Setiap kali bernafas kita mengeluarkan udara panas, dan ini berarti hilangnya panas dari tubuh. Tentu hal tersebut tak dapat dihindari, kecuali kalau kita berhenti bernafas. Penguapan keringat dari kulit dan paru - paru merupakan penyumbang terbesar dari hilangnya panas tubuh. Kendati ini tidak bisa dihindarkan, jumlah penguapan itu bisa dikendalikan dengan menggunakan pakaian yang tidak menyerap air tetapi bisa "bernafas" (uap air masih dapat keluar). Panas tubuh dapat hilang sebagai akibat konduksi, misalnya karena kehujanan. Seseorang yang kebasahan akan menyebabkan sejumlah besar panas tubuh hilang dengan cepat. Suhu air dibawah 5°C bisa mengakibatkan kematian bagi seseorang, karena temperatur tubuh pada tingkat itu tidak dapat dipertahankan lagi. Panas tubuh juga dapat hilang melalui bagian- bagian tubuh yang tidak tertutup oleh pakaian, terutama kepala, leher, dan tangan. Dengan sinar matahari (radiasi), tubuh secara terus - menerus memanasi selapisan tipis udara di atas kulit. Tubuh akan tetap panas kalau lapisan tipis udara panas itu dapat dipertahankan. Angin dan aliran udara atau keadaan malam hari yang dapat membawa lapisan panas tersebut, sehingga tubuh menjadi dingin. Fungsi utama pakaian adalah untuk menjaga udara di atas lapisan kulit ini. Suhu udara dan angin yang bertiup kencang akan menyebabkan Hipotermia terjadi bahkan berujung kematian. Untuk itu bagi para pendaki gunung, bawalah pakaian hangat agak lebih. Jangan lupa pula membawa kantung tidur (Sleeping Bag) yang sangat berguna sekali digunakan saat para pendaki istirahat atau tidak ada kegiatan sama sekali. Sebab jika kita mendaki dan sedang tidak berkegiatan, kemungkinan untuk terserang dingin lebih besar. Lalu bagaimana cara menanggulangi korban yang terserang Hipotermia,,?

Menjadi pertanyaan sekarang kalau seandainya korban ditemukan masih hidup, tetapi dalam keadaan Hipotermia, apakah kita sudah mengetahui cara menanggulanginya.,,?!
Ini pantas dipertanyakan karena pernah ada kasus di mana korban ditemukan masih hidup tetapi dalam keadaan Hipotermia, lalu meninggal dunia justru ketika sedang diselamatkan.

Mula-mula gantilah baju si penderita yang basah dengan yang kering.
Hindarkanlah si penderita dari hembusan angin, misalnya dengan mendirikan tenda atau bivak yang baik dan ditempat yang aman.
Jangan biarkan si penderita terbaring langsung di tanah, berikan alas yang hangat, supaya dingin dari tanah tidak mempengaruhinya.
Berikanlah minuman yang hangan dan manis.
Lalu bantulah si penderita untuk menghangatkan tubuhnya sendiri.
Masukan si penderita ke dalam kantung tidur ( ‪#‎sleeping_bag‬) yang telah dihangatkan dengan ditiduri terlebih dahulu oleh orang lain yang masih sehat.
Kalau kantung tidur cukup untuk 2 orang, sebaiknya seseorang yang masih sehat masuk bersama si penderita untuk membantu si penderita memanaskan tubuhnya. ".Keduanya harus dalam keadaan telanjang.", ( ‪#‎tidak_semua_pendaki_dapat_melakukan_hal_ini_karena_butuh_pelatihan_khusus‬. ‪#‎jangan_porno_yaachh‬)., karena kontak langsung dari kulit ke kulit akan cepat menghangatkan si penderita.
Kalau memungkinan, lebih baik 2 orang yang sehat mengapit si penderita ditengahnya agar maksimal membantu menghangatkan si penderita.
Kemudian meletakan botol penuh dengan air hangat ( ‪#‎bukan_air_panas‬) ke dalam kantung tidur akan membantu. Terutama letakan botol hangat tersebut di ketiak, perut dan selangkangan si penderita. Kalau memungkinkan, buatlah api unggun di sisi penderita.
Kalau si penderita sudah sedikit sadar dan bisa makan, berikanlah gula - gula dan makanan manis. Hidrat arang merupakan bahan bakar yang cepat sekali menghasilkan panas dan tenaga.
Evakuasi baru bisa dilakukan setelah penanggulangan sementara ini.
Hal yang terpenting juga, janganlah panik dalam menghadapi keadaan jika kawan atau rekan kita terserang Hipotermia. Tenang dan berfikir jernih akan memudahkan tahap - tahap penanggulangannya. Mintalah bantuan kepada pendaki lain yang ada di sekitar kita. Jangan sungkan, sebab pendaki sejati selalu menolong sesama.
Berikut ini tanda - tanda Khusus Hipotermia.
Suhu Badan (Celcius) dan tanda khusus :
38 - 37 : Normal.
36 - 35 : Menggigil sampai bulu roma berdiri, tetapi masih terkendali. Gerak langkah menjadi lambat. Koordinasi tubuh mulai terganggu.
35 : Apa bila mencapai titik gawat, menggigil tidak terkendali.
35 - 33 : Pengambilan dan koordinasi tubuh kabur. Langkah kaki sering tersandung. Berbicara kasar.
33 : Semakin menggigil. Denyut nadi dan tekanan darah mulai menurun.
32 - 29 : Menggigil berhenti. Kebingungan mulai meningkat. Meracu. Ingatan hilang. Gerakan tersentak - sentak. Pupil (bagian hitam mata) mulai membesar.
29 - 28 : Otot mulai kaku. Pupil membesar. Denyet nadi melemah atau tidak teratur. tarikan nafas melemah. Warna kulit kebiru - biruan. Tingkah kacau. Mengarah ketidak sadaran.
27 : Pingsan. Pupil tidak lagi menjawab gerakan cahaya. Kehilangan gerakan - gerakan sepontan. Penderita kelihatan sudah meninggal.
26 : Koma. Gawat. Suhu tubuh menurun dengan cepat.
20 : Denyut jantung berhenti.
18 : Dalam suhu tubuh ini korban masih bisa ditolong dengan penangganan yang segera dan intensif (di rawat ke rumah sakit secepat mungkin), bagi pendaki gunung hal ini agak sulit.
Dari keterangan yang tertera diatas adalah suhu tubuh bukan suhu ruangan. Tanda - tanda Hipotermia dalam hal apapun, mencegah lebih baik dari pada menanggulangi. Ada beberapa tips dari saya agar terhindar dari hal - hal yang tidak diinginkan seperti diatas. Dalam setiap pendakian bawalah pakaian hangat sedikit lebih, tidak masalah berat sedikit yang penting safety. Sleeping bag, adalah barang terpenting yang jangan sampai tertinggal setiap melakukan pendakian gunung. Bungkuslah pakaian yang kering dan Sleeping Bag dan Jacket Gunung ( ‪#‎bukan_jaket_hadiah_beli_motor_yaakkkk‬)., di bungkus dengan plastik atau Dry Bag yang baik saat ter-packing di dalam ransel. Hal tersebut menghindari pakaian dan sleeping bag basah jika suatu waktu hujan turun. Celana Jeans/berbahan jeans Berbahaya ( ‪#‎tidak_disarankan_dan_tidak_nyaman_utk_pendakian‬). Banyak pendaki gunung yang mengira bahwa memakai celana jeans adalah praktis dan tahan robek. Sebenarnya memakai celana jeans bisa membahayakan pendaki gunung, lebih - lebih di gunung dengan curah hujan yang besar seperti iklim di Indonesia. Bahan celana ini sukar sekali kering kalau basah. Kalau sudah begini, badan pemakainya akan selalu kedinginan. Ini akan mempercepat menurunnya panas badan karena cuaca dingin di gunung. Yang terbaik bahan celana adalah dari katun/bahan ( ‪#‎bahan_quickdry‬). Bawalah persediaan makanan yang cukup dan banyak mengandung kalori dan karbohidrat ( ‪#‎disarankan_jangan_kebanyakan_makan_mie_instan_karena_akan_berakibat_mules_dan_bisa_mencret‬). Bawalah tenda yang memiliki 2 lapisan ( ‪#‎double_layer_nama_nya‬). Lapisan pertama yaitu tenda itu sendiri, dan yang ke dua adalah flysheet dibagian luarnya. Hal tersebut meminimalisir hembusan angin yang masuk ke tenda. Angin bisa saja masuk dari selah-selah jari kaki dan tangan, bawalah kaos kaki dan sarung tangan sedikit banyak. Dirikanlah tenda atau bivak di tempat yang terhindar dari hembusan angin. Lebih baik mendirikan tenda di punggungan gunung dari pada di lembah. Sebab lebah lebih terasa dingin.
Sekian penjelasan dan tips dari saya, semoga bermanfaat bagi kita semua para pelaku kegiatan alam. Kiranya ada kekurangan atau kesalahan mohon koreksi dan tambahannya. Terima kasih sudah menyimak.
*Salam Lestari...!!

@PendakiJakarta

BEBERAPA TIPS/CARA MERAWAT TENDA

BEBERAPA TIPS/CARA MERAWAT TENDA

Setelah kalian melakukan kegiatan pendakian atau kegiatan lain di alam bebas, saat kembali ke rumah ada satu hal yang harus dipikirkan untuk segera dikerjakan, yaitu membersihkan alat-alat yang telah dipakai untuk kegiatan agar alat-alat tersebut tetap awet dan tahan lama mengingat harga dari alat-alat tersebut memang relatif mahal.
Untuk kali ini, kami akan memberikan seputar tips untuk membersihkan dan merawat tenda yang telah kalian pakai untuk kegiatan, terutama tenda.


Pertama:
Setelah kalian selesai berkegiatan dan kembali ke rumah atau base camp, segera bongkar isi tas carrier dan ambil tenda yang ada di dalamnya, kemudian bersihkan semua kotoran yang melekat baik dibagian dalam maupun dibagian luar tenda. Jika tidak terlalu kotor, gunakan spons yang dibasahi dan sabun untuk membersihkannya, kami lebih merekomendasikan dengan menggunakan shampo. 
Kedua:
Jika kalian sering memakai dome saat hujan, anda bisa memeriksa tiang (frame) tenda dan membersihkannya dengan air supaya lempengan besi yang ada tidak terjadi korosi sehingga mengurangi kelenturan frame. Bagian resleting tenda juga perlu diperhatikan meskipun resiko karatnya kecil. Kalian bisa menyemprotnya dengan silikon kecil atau mengoleskan dengan lilin pada gerigi resleting agar tetap normal.
Ketiga:
Simpan tenda dome anda di tempat yang kering dan sejuk. Jangan menyimpan ditempat yang panas karena bisa menyebabkan kerusakan pada lapisan tenda.
Keempat:
Sesuatu yang paling sering menyebabkan kerusakan pada tenda dan mungkin jarang disadari adalah kerusakan yang disebabkan oleh sinar ultraviolet dari matahari. Biasakan sekali-kali mendirikan tenda dan diangin-anginkan (ruangan terbuka tapi tidak terkena sinar matahari secara langsung sehingga benar-benar kering dengan angin) sekalipun tidak dalam kegiatan.  
Kelima:
Jangan sekali-kali menggunakan tenda untuk alas tidur atau selimut jika tidak dipergunakan, hal ini untuk mengurangi gesekan-gesekan antara tenda dan alas serta pada tanah jika untuk alas tidur. 
Keenam:
Jangan menyalakan api atau merokok dan sejenisnya di dalam tenda. lebih bagus lagi jika memakai alas seperti jas hujan dsb sebelum mendirikan tenda agar alas tenda tidak berlubang.

Semoga bermanfaat bagi anda sekalian... Happy Hiking... :)  

Jumat, 18 Maret 2016

BEBERAPA TIPS SEBELUM DAN SAAT MENDAKI GUNUNG

BEBERAPA TIPS SEBELUM DAN SAAT MENDAKI GUNUNG


Sebagian orang beranggapan bahwa naik gunung itu adalah kegiatan yang sangat berbahaya. Memang benar, bahwa "Mendaki Gunung itu adalah nyawa taruhannya", karena bila kita salah sedikit saja nyawa kita bisa melayang. Kita pun tidak bisa menjamin 100% keselamatan kita sendiri, apalagi keselamatan orang lain, tapi kita hanya bisa mencegah atau meminimalisirnya. Dan wajib hukumnya untuk benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya disetiap halnya dengan teliti dan tanpa celah.
Banyak hal yang perlu diperhatikan sebelum kita melakukan kegiatan pendakian gunung.
Nah, bagaimana cara mencegah atau meminimalisir kejadian-kejadian yang tidak kita inginkan saat kita mendaki tersebut???

Berikut ada beberapa tips sebelum kita memulai perjalanan dan saat pendakian yang bisa kita lakukn untuk meminimalisir kejadian-kejadian yang tidak kita inginkn selama perjalanan atau pendakian.

- Latihlah fisik minimal 1bulan sebelum kita mendaki.
Hal ini supaya otot-otot kita tidak kaget atau tegang pada saat melakukan perjalanan/pendakian.
- Cari tahu apa saja hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum kita mendaki gunung, apalagi jika kita adalah seorang pendaki pemula.
- Cari informasi yang lengkap tentang daerah yang akan kita kunjungi, agar kita bisa mempersiapkan segala keperluannya.
Informasi ini bisa kita dapat melalui banyak bertanya kepada yang sudah pernah kesana atau melalui searching via internet.
- Cari pula informasi tentang biaya dan transportasinya, berapa biaya dan dengan menggunakan apa kita untuk sampai ke tempat tujuan.
- Buat estimasi waktu/biaya perjalanan untuk mengetahui berapa waktu/biaya yang dibutuhkan untuk sampai ke tempat tujuan dan kembali lagi ke rumah.
Mungkin selama ini kalian lebih sering mengikuti acara-acara opentrip yang biasanya sudah disiapkan transportasi Pergi dan Pulang serta segala kebutuhannya, sehingga kalian tidak mengerti tentang transportasi dan berapa biaya sebenarnya yang dibutuhkan untuk sampai ke tempat tujuan, serta apa saja yang harus/wajib dibawa.
- Ketahuilah perlengkapan apa saja yang dibutuhkan untuk mendaki gunung, buat list perlengkapannya selengkap mungkin. Karena, barang yang kita bawa saat mendaki bisa dibilang adalah nyawa kedua kita. Dan jangan pernah ada anggapan, "Ngapain bawa perlengkapan banyak2, berat2in aja", walaupun di gunung hanya butuh 1-2 hari safety hike harus dinomorsatukan.
"Naik gunung itu susah jadi jangan dibikin susah", bawa logistik lebih saat mendaki. Jika mendaki 2 hari bawa bekal untuk 3-4 hari.
Hal ini untuk menjaga-jaga seandainya ada penambahan/molornya waktu saat mendaki. Jika ini terjadi maka kita sudah siap dengan bekal logistik yang lebih.
- Bawalah logistik yang banyak mengandung kalori, karna saat mendaki tubuh kita banyak membutuhkan kalori. Usahakan tidak membawa makanan yang banyak membutuhkan air jika kita mendaki gunung yang tidak ada/jauh dari sumber air.
- Jika kalian mempunyai/mengidap suatu penyakit, bawalah obat-obatan khusus serta beritahu kawan seperjalanan kalian.
- Khusus buat wanita bawa selalu pembalut. Hal ini untuk jaga- jaga haid/datang bulan yang tidak diduga, dan jangan buang disembarang tempat bekasnya.
- Ketahuilah pakaian, sepatu, tas yang cocok untuk digunakan saat pendakian, agar kita tidak salah dalam menggunakan kostum.
- Usahakan menggunakan tas yang standar untuk mendaki gunung, agar semua barang bawaan bisa masuk dan tersusun rapih dlm tas.
- Pelajari bagaimana cara packing yang benar, agar saat mendaki barang-barang bawaan kita tersusun rapih dan tidak terasa berat saat dibawa.
- Lapisi dalam tas dengan kantung sampah besar/trashbag sebelum packing, agar saat tas basah barang bawaan kita tidak ikut basah.
- Bungkus barang bawaan dengan kantong plastik dan kelompokkan sesuai dengan kebutuhannya, ini bertujuan agar tidak berantakkan serta mempermudah dalam mengambilannya.
Susun dengan benar dari barang yang ringan, sedang hingga yang berat, dari yang paling lebih dulu dibutuhkan sama yang agak lama dibutuhkan.
- Checklist kembali barang bawaan kalian sebelum dimasukkan ke dalam tas, agar tidak ada barang-barang yang tertinggal, terutama barang-barang yang penting.
- Sisipkan biodata lengkap kalian di dalam tas, agar jika terjadii seperti tas tertukar atau tertinggal maka identitas kalian dapat dikenali.
- Dan jangan lupa pula untuk selalu membawa kartu identitas diri kalian, baik fotocopy atau aslinya dan simpan dengan aman.
- Pastikan tubuh kita dalam keadaan sehat/fit saat akan memulai perjalanan.
- Jangan memaksakan diri utk tetap berangkat mendaki jika kondisi tubuh kita sedang sakit atau tidak fit.
"Jangan menomor duakan keselamatan yang hanya karena sebuah ambisi utk menggapai sebuah puncak". Karna ada pepatah, "Lebih Baik Gagal Daripada Pulang Tanpa Nyawa".
- Check pula alat komunikasi kalian apakah sudah terisi dengan pulsa atau belum untuk selalu memberikan kabar dimana posisi dan kondisi kalian pada orang-orang terdekat.
- Dan yang terpenting, Jangan lupa untuk selalu meminta ijin dan doa kepada orangtua agar diberikan keselamatan pergi hingga pulang kembali ke rumah.
- Usahakan untuk tidak melakukan kegiatan pendakian dengan seorang diri (minimal 3orang).
   Hal ini agar jika terjadi sesuatu pada kalian, 1orang bertugas melapor ke bawah (pos petugas), 1orang lagi bertugas menemani kalian.
- Tinggalkan pesan pada orang di rumah, kemana dan dengan siapa kalian pergi, serta tinggalkan nomor telepon/hp yang bisa dihubungi selain punya kalian sendiri.
- Ikuti prosedur yang berlaku, mendakilah melalui jalur yang resmi/yang sudah ada. Dan biasakan berdoalah sebelum memulai pendakian.
- Lakukan simaksi/lapor saat tiba dan kembali di pos pendakian, isi form simaksi dengan lengkap, dan taati segala peraturan yang berlaku.
- Jika punya waktu lebih, gunakan hari pertama kalian untuk beradaptasi dengan cuaca/istirahat terlebih dahulu sebelum memulai pendakian.
- Jika pendakian naik turun melalui jalur yang sama, titip barang-barang kalian dipos yang sekiranya barang tersebut hanya dibutuhkan untuk perjalanan pergi dan pulangnya saja.
Cara ini dapat memperingan beban yang kita bawa saat mendaki.
Dan jika memang harus menitip, bungkus dengan rapih barang-barang kalian, sisipkan identias kalian agar tidak tertukar dengan barang milik orang lain.
- Catat pula nama si penerima dan catat waktu saat kita menitipkan barang-barang kita, agar mereka ikut bertanggungjawab atas barang-barang yang kita titip.
Dan pastikan si penerima barang yang kita titip itu adalah petugas atau orang yang biasa ada di pos tersebut.
- Lakukan pula pemanasan kecil sebelum memulai pendakian, agar otot kita tidak tegang saat mendaki.
- Dan jangan lupa untuk selalu berdoa sebelum memulai mendaki agar kita diberi keselamatan selama pendakian.
- Atur ritme perjalanan saat mendaki, istirahatlah jika lelah, jangan memaksakan diri, cari tempat yang aman saat mendirikan tenda.
- Pakailah pakaian yg mudah menyerap keringat, jangan menggunakan jaket saat mendaki.
- Gantilah pakaian kalian saat istirahat dalam tenda, hal ini guna mengurangi rasa dingin yang disebabkan oleh bekas/sisa keringat yang masih melekat pada pakaian kalian saat perjalanan.
- Gunakan selalu sleeping bag jika ingin tidur agar kita lebih nyaman dan nyenyak saat tidur/istirahat.
Sebab hawa dingin seringkali datang menyerang tiba2 di waktu kalian tertidur, dan usahakan perut dalam kondisi terisi dengan makanan sebelum kita tidur.
- Hati-hati  jika kalian akan meninggalkan barang-barang dalam tenda saat akan menuju puncak (summit). Pastikan barang-berharga kalian aman.
Sebab telah banyak terjadi  kejadian pencurian barang-barang di gunung disaat tenda di tinggal muncak/summit pemiliknya.
- Di harap untuk tidak berlarian saat kondisi turun. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada permukaan tanah/jalur seperti. Karna tekanan kaki saat turun sambil berlari itu memiliki daya tekan pijakan yang lebih berat daripada pijakan dengan berjalan. Hal ini juga sangat mengganggu pendaki lain yang posisinya berlawanan (posisi nanjak). Apalagi jika tanah dalam keadaan kering, apabila kita injak debu-debu pijakan kaki kita akan bertebaran.
- Saling sapalah kalian saat bertemu/berpapasan dengan pendaki lain. Berikan senyum sapa walaupun posisi kita sedang lelah.
- Jika saat turun kita berpapasan dengan pendaki yang sedang naik, prioritaskan mereka untuk lewat/jalan terlebih dahulu.
- Jangan pernah meninggalkan sampah sekecil apapun saat pendakian.
- Dan jangan pernah merusak apa yang ada saat pendakian.

Perlu diingat :
“Alam tak kenal kata kompromi”. Di saat lengah dan takut alam dapat membunuh seorang petualang / pendaki. Seseorang yang profesional sekalipun mempunyai resiko yang sama ketika ia menempatkan dirinya di alam bebas.
Buat perjalanan/pendakian kalian se-safety mungkin agar kalian lebih menikmati perjalanan/pendakiannya.
And .....
"Belajarlah Dahulu Sebelum Mendaki".

#BeberapaTipsSebelumDanSaatMendaki (*)




@PendakiJakarta

Selasa, 23 September 2014

MENGATASI INSOMNIA

BEBERAPA TIPS MENGATASI INSOMIA



* Buatlah waktu tidur dan bangun yang teratur, dan tetap ikuti jadwal ini sekalipun kalian sedang libur. * Gunakan tempat tidur hanya untuk tidur. Bukan untuk membaca, nonton televisi, atau bahkan bekerja. Terlalu lama berada di atas tempat tidur dapat memecah-mecah siklus tidur normal.

* Bila tidak perlu, sebaiknya hindari tidur siang, atau sore.

* Lakukan latihan fisik sebelum makan malam. Latihan fisik yang dilakukan dekat dengan jam tidur malah akan membuat kalian menjadi mudah terjaga.

* Mandi dengan air panas, paling baik dilakukan 1½ – 2 jam sebelum tidur. Hal ini akan mengubah irama suhu inti tubuh dan membantu untuk tertidur lebih mudah dan lebih lama. Hindari mandi beberapa saat sebelum tidur.

* Lakukan aktivitas relaksasi sedikitnya ½ jam menjelang tidur, seperti membaca bahan yang ringan atau meditasi.

* Jaga agar suhu kamar relatif sejuk dan memiliki ventilasi yang baik

* Saat tidur jangan melihat jam berulang kali. Kalian akan mudah terobsesi dengan waktu sehingga justru akan sukar untuk mengantuk.

* Makan malam sebaiknya ringan dan dijadwal sedikitnya 4 – 5 jam sebelum waktu tidur. Kadang-kadang makanan ringan sebelum tidur dapat membantu, namun bila kalian makan banyak sebelum tidur dapat memberi efek sebaliknya.

* Biasakan mendapat sinar matahari pagi sedikitnya ½ jam setiap hari.

* Hindari minum terlalu banyak, terutama yang mengandung kafein, sebelum tidur agar tidur tidak terganggu oleh keinginan untuk buang air kecil.

* Jika kalian masih terjaga setelah 15 atau 20 menit, pergilah ke ruangan lain yang cahayanya redup dan lakukan aktivitas ringan yang tenang. Hindari nonton televisi atau beraktivitas pada ruangan yang terang.

* Metode lain yang juga dapat dilakukan adalah mengubah cara berpikir kalian. Umumnya bila sulit tidur, akan memaksa tidur sambil memejamkan mata dan berulang-ulang berpikir untuk tertidur. Lakukanlah hal sebaliknya!!! tetap buka mata kalian sambil berpikir untuk tetap terjaga (seperti hendak begadang). Kenyataannya, seringkali justru dengan berpikir untuk tetap terjaga, kalian malah akan mengantuk.

Semoga bermanfaat.


@PendakiJakarta

Senin, 15 September 2014

Pendaki Gunung BUKANLAH hanya Gelar yang cuma untuk Gagah-gagahan dan sekedar Simbol saja".

"Pendaki Gunung BUKANLAH hanya Gelar yang cuma untuk Gagah-gagahan dan sekedar Simbol saja".


Banyak hal yang perlu diperhatikan sebelum kita melakukan kegiatan pendakian gunung.
Barang kali ada diantara kita masih ada yang pemula dalam kegiatan pendakian.
Sebelumnya kami mohon maaf, ini tidak ada maksud untuk menggurui, namun ini hanya bentuk tanggung jawab kita untuk saling berbagi ilmu
Semoga ilmunya bermanfaat yaa,, Silahkan disimak...



Milikilah pengetahuan tentang ilmu pendakian sebelum memulai mendaki. Jika kita ingin melakukan pendakian ke suatu tempat namun kita masih merasa kurang pengetahuan, usahakan melakukan perjalanan dengan orang yang sudah pernah ke tempat tersebut/yang lebih berpengalaman. Sebelum kita memulai pendakian, alangkah baiknya kita mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang medan/gunung yang akan kita daki agar bisa menyiapkan segala kebutuhan dan perlengkapan yang dibutuhkan saat pendakian. Dan perlu diingat, "Jangan menomor duakan keselamatan yang hanya karena sebuah ambisi utk menggapai sebuah puncak". 




Mendaki gunung itu adalah suatu kegiatan yang keras, penuh petualangan, membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan, dan daya juang yang sangat tinggi dalam melakukannya. Puncak adalah tujuan, tapi bukanlah yang utama. Yang utama adalah prosesnya dalam menggapai sebuah puncak itu sendiri. Pada umumnya orang menganggap bahwa mendaki gunung itu apabila sudah sampai puncaknya, maka itulah yang namanya "Keberhasilan". Nah,  "Keberhasilan yang sungguh-sungguh bernilai tinggi" adalah justru apa yang telah di dapat / di pelajari dalam proses pendakiannya, Dan kepuasan terbesar sesungguhnya bukanlah karena kita telah sampai dipuncak gunung tersebut, tetapi karena kita telah melalui tantangan yang terasa begitu berat. Gunung bukanlah untuk di taklukkan, Karena, bukanlah gunung ataupun lautan yang kita taklukan, Tapi, "hawa nafsulah yang harus kita taklukan".
Jangan pernah meremehkan setiap peraturan/tata tertib yang ada di suatu daerah/tempat, walaupun itu kita anggap aneh dan tidak masuk akal. Mendaki itu janganlah hanya sekedar mendaki, ambil dan pahamilah semua pelajaran yang kita dapat saat pendakian, dan terapkanlah dalam kehidupan kita sehari-hari..
Tidak ada seorangpun Pendaki Gunung Sejati yang rela mati konyol saat mendaki, yang hanya dikarenakan minimnya pengetahuan tentang pendakian. Seorang pendaki gunung pada dasarnya menghadapi dua jenis rintangan ketika melakukan kegiatannya. Satu kata dalam berkegiatan di alam terbuka adalah “Alam tak kenal kata kompromi”. Di saat lengah dan takut alam dapat membunuh seorang petualang / pendaki. Seseorang yang profesional sekalipun mempunyai resiko yang sama ketika ia menempatkan dirinya di alam bebas. 



Untuk melakukan segala aktivitas apa pun perlu adanya perencanaan yang matang. Begitu pun dalam hal pendakian, perencanaan yang matang perlu sekali dipikirkan sebelum perjalanan pendakian dimulai. Semakin matang kita merencanakannya, maka risiko dalam perjalanan pendakian akan dapat diminimalisasi.
Akhir-akhir ini banyak kejadian kecelakaan dalam kegiatan di alam terbuka yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan maupun keterampilan yang dimiliki oleh para penggiatnya. Sesungguhnya hal ini dapat dihindarkan dengan memberikan pembekalan pengetahuan dan keterampilan sehingga para penggiat kegiatan alam terbuka mempunyai kemampuan yang memadai.



Dalam merencanakan dan melakukan perjalanan, tentunya harus dilakukan persiapan yang baik, sehingga kegiatan dapat dilakukan dengan aman dan nyaman, sehingga dapat pulang dengan selamat. Setiap penggiat juga harus membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan untuk mengatasi kesulitan yang mungkin saja muncul, seperti kecelakaan, sakit, atau tersesat.
Faktor keselamatan (safety) harus dijadikan kerangka berfikir dalam berkegiatan di alam terbuka. Untuk keadaan berbahaya, dapat dilakukan penggolongan faktor penyebabnya, yaitu bahaya subyektif dan bahaya obyektif. Bahaya subyektif adalah potensi bayaha yang berada dibawah kendali manusia yang melakukan kegiatan. Contohnya, minimya pengetahuan tentang kegiatan di alam bebas,pemilihan alat yang salah, cara penggunaan peralatan yang tidak dikuasai dengan baik dan lain-lain. Bahaya obyektif adalah bahaya yang berada di luar kendali manusia, misalnya badai, banjir, panas, dan lain-lain. Semakin subyektif suatu bahaya maka akan semakin dapat diperkirakan terjadinya dan dapat dihindarkan. Sebaliknya, semakin obyektif suatu bahaya maka akan semakin sulit diperkirakan dan sulit dihindarkan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan kegiatan di alam terbuka guna menjadikan kegiatan yang akan dilaksanakan menjadi kegiatan yang tetap mengutamakan kenyamanan serta keselamatan.



Keberhasilan suatu kegiatan di alam terbuka juga ditentukan oleh perencanaan perlengkapan dan perbekalan yang tepat. Dalam merencanakannya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
  • Kenalilah jenis medan yang akan dihadapi (misal : hutan, rawa, tebing, dll)
  • Tentukanlah tujuan perjalanan (misal : penjelajahan, pelatihan, penelitian, kemanusiaan/SAR, dll)
  • Ketahuilah lamanya perjalanan
  • Ketahuilah keterbatasan kemampuan fisik untuk membawa
  • Perhatikan hal-hal khusus (misal : obat,-obatan tertentu, dsb)
Setelah mengetahui hal-hal tersebut, maka kita dapat memilih perlengkapan dan perbekalan yang sesuai dan selengkap mungkin, tetapi bebannya tidak melebihi kemampuan kita dalam membawanya.Dan jangan merasa diri kita kuat lalu kita membawa beban yang berlebihan/semau kita.Perhitungan beban total untuk perorangan sebaiknya tidak melebihi sepertiga berat badan (15-20kg).

Dari kegiatan penjelajahan kita mengenal beberapa jenis perjalanan yang disesuaikan dengan medannya, yaitu :
  • Pendakian Gunung
  • Perjalanan Menempuh Hutan Rimba
  • Penyusuran Pantai, Sungai atau Rawa
  • Penyusuran Gua
  • Pelayaran
  • Perjalanan Ilmiah
  • Perjalanan Kemanusiaan
Dan dari setiap kegiatan tersebut, kita dapat mengelompokkan perlengkapan yang dibawa sebagai berikut :
  1. Perlengkapan dasar, meliputi : perlengkapan untuk pergerakan, ; perlengkapan untuk memasak, makan, minum ; perlengkapan untuk MCK ; perlengkapan pribadi
  2. Perlengkapan Khusus, meliputi : perlengapan penelitian (misal: kamera, buku, dan alat-alat khusus lainnya) ; perlengkapan penyusuran sungai (misal : perahu, dayung, pelampung, dll) ; perlengkapan pendakian tebing (misal : tali, carabiner, chock, piton, dsb)
  3. Perlengkapan tambahan perlengkapan ini dapat dibawa atau tidak, misal : semir, kelambu, gaiter, dll
Tahapan dalam perencanaan perjalanan adalah sebagai berikut :
  1. Kita harus dibekali dengan kemampuan untuk memilih, mengatur, serta menggunakan perlengkapan dan perbekalan ; kemampuan teknis menggunakan alat bantu perjalanan, seperti peta dan kompas ; kemampuan berkemah (camp craft) seperti membuat bivak dan api. Penguasaan keterampilan ini akan membantu kita mengatur teknik berjalan di gunung hutan, menebas dengan efektif, maupun mengatur konsumsi makan dan minum.
  2. Diperlukan kemampuan fisik yang baik, sehingga selain diperlukan kondisi tubuh yang sehat, juga diperlukan latihan fisik yang sesuai dengan kegiatan yang akan dilakukan. Misalnya untuk pendakian gunung, latihan fisik naik turun bukit dapat dilakukan dalam persiapan perjalanan, selain itu juga latihan mengangkat beban (ransel).
  3. Diperlukan mental yang siap untuk menghadapi kegiatan berat di alam. Hal ini tidak dapat diajarkan oleh pelatih, namun harus ditumbuhkan dari dalam diri sendiri. Penguasaan yang baik pada tiga ketrampilan lainnya akan sangat membantu.
  4. Diperlukan pemahaman yang baik terhadap kondisi alam yang akan dihadapi dan mencakup bagaimana memilih waktu yang tepat untuk melakukan kegiatan dan bagaimana cara mengantisipasi kesulitan yang mungkin terjadi.


Pendaki gunung itu bukanlah hanya gelar yang cuma untuk Gagah-gagahan dan sekedar simbol saja. Karena kesombongan itu bukanlah pada manusia tempatnya dan buat apa kita berbusung dada yang hanya karena kita sebagai anggota pecinta alam dan bahkan mungkin pengetahuan kita pun tentang pendakian belumlah seberapa. Dan mendaki gunung itu jangan hanya asal mendaki, jangan hanya sekedar ikut-ikutan semata-mata karena hanya ingin dinilai bahwa kita adalah pendaki gunung/anak gunung/anggota pecinta alam. Dan jangan karena sebuah film kita jadi ingin langsung merasakan mendaki gunung (korban film). Perlu di ingat bahwa, mendaki gunung itu Nyawalah taruhannya. Karena banyak dari korban yang tewas di gunung disebabkan antara lain karena minimnya pengetahuan tentang pendakian serta menomor satukan ego ketimbang keselamatannya. "Kita ditempa bukan untuk berani mati, tapi kita ditempa untuk berani hidup". Carilah ilmu atau pengetahuan sebanyak mungkin sebelum melakukan kegiatan ini.

Dan satu hal lagi yang wajib dan penting untuk diperhatikan dalam kegiatan di alam bebas adalah masalah "SAMPAH". Sangat super jarang sebuah organisasi/kelompok pecinta alam yang mengupas masalah sampah di gunung saat menyampaikan atau memberikan materi atau pendidikan kepecintaan alaman. Kebanyakan yang ditemui hanyalah sekedar mengingatkan supaya membawa turun kembali sampah saat mengadakan pendakian. Dan sangatlah jarang atau bahkan tidak ada materi tentang sampah atau bahayanya sampah yang diberikan. Kebanyakan pengetahuan tersebut di dapat melalui seminar-seminar tentang kebersihan. Nah, di organisasi saja sudah begitu apalagi yang berasal dari non organisasi/perorangan. Gunung tidaklah sama seperti kota yang memiliki banyak petugas kebersihan. Oleh karena itu kebersihan di gunung/hutan adalah tanggung jawab para pendaki sendiri dan bukanlah tanggung jawab pemerintah ataupun warga setempat. Bermacam-macam gaya kita bisa lakukan di gunung, tapi cuma satu gaya yang sangatlah terpuji dan patut di contoh, yaitu "Membawa sampah turun kembali".
Jangan pernah mempunyai anggapan,"Anggap gunung itu rumah kita sendiri". Sebab biasanya orang yang punya anggapan seperti ini akan berbuat seenaknya saja karena merasa rumahnya sendiri. Untuk membersihkan rumahnya saja sudah ogah-ogahan, gimana untuk membersihkan gunung..??
Anggap diri kita ini adalah tamu, Jika kita menganggap diri kita adalah tamu, maka kita pun akan menghormati tuan rumahnya dan tidak akan seenaknya berbuat. Jadilah tamu yang mempunyai sopan santun, datang memberi salam kepada semua yang di rumah kita sopan santun pulang pun memberi salam, jangan seperti maling, Datang tanpa salam lalu merusak, mencuri, dan lain-lain pulang pun tanpa salam.
Kita pun bertekad untuk menjadi pendaki yang bertanggung jawab dengan limbah/kotoran kita.Selain kita masih ada anak cucu kita yang nantinya juga akan merasakan atau menikmati indahnya alam ini.
Selanjutnya, jika ada yang mencemari bahkan merusak, kewajiban kita adalah untuk saling mengingatkan. Dengan mengingatkan saja itu merupakan bentuk kepedulian kita untuk dirinya, lingkungan dan warga. Marilah kita berlomba-lomba untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.














Permalink gambar yang terpasang

Perlu di ingat:

"Gunung bukanlah tempat sampah"
Marilah kita mulai dari diri kita masing-masing, tanamkanlah rasa kepedulian kita yang tinggi terhadap kebersihan alam ini, sebab :
"KITA TIDAK BISA MEMUSNAHKAN SAMPAH HINGGA TUNTAS, TAPI KITA HANYA BISA MENGURANGINYA ATAS KESADARAN DARI DIRI KITA MASING-MASING". 
"Bawalah turun kembali sampah kalian saat melakukan pendakian".

Janganlah jadi pendaki yang hanya menikmati keindahan alamnya saja dan tidak memperhatikan / memperdulikan kebersihannya. Buktikan bahwa kita adalah pendaki profesional yang mendaki tidaklah asal mendaki.

3 Etika yang merupakan prinsip dasar dalam kegiatan petualangan yaitu :
*Take Nothing But Picture
*Leave Nothing But Footprint
*Kill Nothing But Time.







Oh alam,,, engkau adalah korban keangkuhan,, Maafkan mereka yang merusak, mencorat-coret, mengotori dirimu... mereka adalah orang-orang yang tak mengerti akan arti kehidupan..

Manusia yang baik adalah manusia yang tidak merusak lingkungan....!!!




by: @PendakiJakarta
Picture Cc: @Trashbagcomm

Rabu, 03 September 2014

Pendaki Harus Bisa Mandiri

PENDAKI SELALU BERUSAHA BERDIRI SENDIRI TANPA HARUS BELAS KASIH ORANG LAIN


Menaklukkan puncak gunung bukanlah tujuan utama dan bukan pula tujuan satu-satunya dari sebuah pendakian. Mendaki gunung itu bukan untuk menaklukkan alam/gunung, tetapi justru untuk menaklukkan diri sendiri. Dengan menghancurkan ego pribadi, seorang pendaki sejati bisa berdamai dan bersahabat dengan dirinya sendiri. Puncak yang paling tinggi dari pendakian itu adalah menaklukkan ego, kemanjaan, serta sifat individualis. Makna sebuah pendakian itu sendiri bukanlah hanya untuk mengejar sebuah puncak gunung yang sedang didaki. Pencapaian puncak tertinggi akan lebih bermakna jika sampai ke puncak bersama dengan rombongan walau dalam keadaan susah dan senang.
3 prinsip bagi para pendaki, yaitu;
1) Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar
2) Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak
3) Jangan membunuh sesuatu kecuali waktu.

3 hal itulah yang selalu tertanam di benak & sanubari sang pendaki sejati. Sehingga mereka menjadi pribadi yang santun & pengertian. Jika tidak, maka patutlah kita mengatakan bahwa ia bukanlah seorang pendaki, tapi ia hanyalah seorang "pecundang".

Jadilah Pendaki Sejati yang benar-benar menjunjung tinggi nilai-nilai Kode Etik dan Prinsip/Etika Pecinta Alam. Mendaki gunung itu adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama. Para pendaki bukanlah orang-orang yang tak berguna.Tetapi mereka adalah jiwa2 yang tulus dan penuh rasa menghargai.
Dan tidaklah mudah untuk bisa menjadi salah satu dari mereka. Karena di butuhkan orang2 yg memiliki perasaan yg sama tentang alam semesta, yaitu cinta. Prinsip seorang pendaki adalah, bahwa ketika kita peduli dengan alam, berarti kita telah peduli dengan kehidupan. Dalam sikap yang peduli dengan kehidupan itu, maka kita pun bisa lebih peduli dengan saudara, tetangga, bahkan musuh kita sendiri.
Mendaki gunung adalah suatu kegiatan yang keras, penuh petualangan, membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan, dan daya juang yg tinggi. Gunung dengan segala aspeknya merupakan lingkungan yang asing bagi organ tubuh kita, lebih-lebih bagi mereka yang hidup di dataran rendah. Itulah sebabnya mengapa kita memerlukan perlengkapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan di gunung. Bahaya dan tantangan yang seakan hendak mengungguli, merupakan daya tarik dari kegiatan ini.
Pada hakekatnya bahaya dan tantangan tersebut adalah menguji kemampuan dirinya untuk bersekutu dengan alam yang keras. Perlengkapan yang baik adalah salah satu usaha untuk mengurangi bahaya di gunung, baik obyek maupun subyek. Keberhasilan suatu pendakian yang sukar dan sulit brarti keunggulan terhadap rasa takut dan kmenangan thdp perjuangan mlawan dirinya sendiri.
Jangan remehkan peraturan-peraturan yang ada di suatu daerah / tempat, walaupun itu kita anggap tidaklah masuk akal.

Kalo akhir-akhir ini terlansir berita mengenai kecelakaan di gunung, dan kesalahan banyak dilakukan oleh si pendaki itu sendiri. Tidak ada seorangpun Pendaki Sejati yang rela mati konyol saat mendaki, yang hanya dikarenakan minimnya pngetahuan ttg pendakian.

Satu kata dalam berkegiatan di alam terbuka, yaitu :
“Alam Tak Kenal Kata Kompromi”.

Seseorang yang profesional sekalipun mempunyai resiko yang sama ketika ia menempatkan dirinya di alam bebas. Di saat lengah dan takut alam dapat membunuh seorang petualang/pendaki.
Utamakan keselamatan dan kebersihan di setiap pendakian.


@Pendaki Jakarta

Selasa, 02 September 2014

Berpetualang Di Alam Bebas

Berpetualang Di Alam Bebas Itu Tak Cuma "Having Fun"

 

Indonesia memiliki tekstur alam yang lengkap, mulai pantai, gunung, sungai, dan danau. Masing-masing tempat tersebut memiliki ciri khas masing-masing. Contohnya, pantai berpasir putih di Anyer, taman edelweis di Gn. Papandayan, atau kawah di Gn. Tangkuban Perahu.
Warna-warni alam ini yang sangat mendukung kegiatan para petualang. Anda cukup memilih ingin menjelajah ke daerah mana. Hal ini pula yang menjadi daya tarik turis mancanegara untuk berwisata ke tanah air. Begitu banyak pilihan tempat yang kita tawarkan.
Hobi bertualang ternyata tidak sekedar mencari kesenangan. Tahukah Anda, begitu banyak manfaat yang bisa didapat dari aktivitas ini.
Pertama, melatih manajemen diri. Kegiatan semisal mendaki gunung bukanlah aktivitas yang serta-merta dapat langsung Anda lakukan. Saat sarapan Anda terpikir untuk mendaki sebuah gunung, dan siangnya langsung berangkat. Tentu tidak bisa seperti itu. Terlalu banyak resiko yang akan terjadi.
Kegiatan di alam bebas termasuk mengandung bahaya, sehingga dibutuhkan perencaaan yang matang. Bukan hanya perencanaan, karena fungsi manajemen  mencakup Planning (perencanaan), Organizing (mengorganisasi), Actuating, dan Controlling.
Perencanaan dimulai dengan menentukan tujuan Anda kemana, waktunya kapan, dan berapa lama. Dari tiga poin ini, Anda dapat mengukur kebutuhan operasi (pergerakan), perbekalan, logistik, transportasi, administrasi, dan pembiayaan. Semakin berat medan yang dituju, maka semakin rumit pula perencanaannya.
Organizing dilakukan setelah Anda membuat perencanaan. Bagilah tugas bersama tim, dan usahakan menjalankannya dengan komitmen. Siapa yang bertanggung jawab masalah perbekalan, administrasi, bendahara, dll harus melaksanakan tugas secara profesional. Dengan mengorganisasi, diharapkan Anda dan tim lebih siap melakukan perjalanan.
Kemudian,  Anda tinggal melakukan perjalanan sesuai dengan daftar operasi yang sudah dibuat. Bila ada perbedaan, contohnya biaya bus lebih mahal, bisa dijadikan catatan. Siapa tahu bisa menjadi bahan referensi untuk perjalanan selanjutnya ataupun kerabat Anda.
Operasi ini juga didukung oleh fungsi controlling, agar perjalanan semakin sesuai dengan perencanaan. Bila sesuai, tentu saja perjalanan akan lebih aman dan menyenangkan. Bahaya yang mengancam, seperti hujan, dingin, dan track yang berat, sudah terprediksi. Itulah manfaat kegiatan alam bebas dalam hal melatih manajemen.
Kedua, menumbuhkan sikap-sikap positif. Mulai dari segi manajemennya, Anda sudah dilatih untuk bersikap tanggung jawab, konsisten, dan kooperatif. Lebih lanjut, ketika sudah terjun melakukan kegiatan, diharapkan Anda mempunyai sikap berani, kreatif, dan sigap.
Berani berarti hati yang mantap disertai rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya dan kesulitan. Bahaya dan kesulitan tersebut tentu saja yang masih dalam batas ‘bisa ditangani’.
Memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk menciptakan, atau membuat sesuatu yang beda. Itulah makna kreatif, yang juga dapat dilatih dengan berkegiatan di alam bebas. Contohnya, Anda bisa menggunakan daun pisang untuk alas makan, ataupun Anda dapat membuat alas empuk dari rerumputan untuk alas tidur.
Kondisi alam yang tidak bisa terprediksi, semisal langit yang cerah tiba-tiba hujan, tentu menuntut penanganan. Hal inilah yang melatih kesigapan. Sigap mengandung makna tangkas, cepat, dan kuat.
Pada akhirnya, semua sikap yang Anda bentuk dari kegiatan di alam bebas diharapkan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga, menyalurkan hobi. Anda dapat mensinergikan hobi dengan kegiatan bertualang. Contoh, sambil melakukan perjalanan Anda melatih minat fotografi, menulis (puisi, pengalaman, berpen), atau melukis. Kaum hawa pun bisa menyalurkan hobi memasaknya dalam suasana yang lebih asri. Pasti mengasyikan melakukan hobi di alam terbuka.
Anda yang memiliki jiwa seni, tentu saja senang menghabiskan waktu di luar ruangan. Inspirasi kerap muncul dari warna-warni alam. Lakukanlah penghayatan, dan selanjutnya pikiran Anda akan terstimulasi untuk menciptakan sesuatu.
Keempat,  lebih mengetahui diri. Secara fitrah, manusia adalah makhluk individu juga makhluk sosial, yang artinya Anda tidak bisa hidup tanpa orang lain. Namun, ada kalanya Anda butuh waktu untuk berinteraksi dengan diri sendiri.

Semilir angin pantai, sejuk hijaunya pepohonan, dan gemericik air sungai mampu membawa suasana yang menyenangkan. Hal ini tentu saja berpengaruh positif bagi jiwa. Anda pun dapat berinteraksi dengan diri sendiri dalam situasi ini. Biarkan pengalaman masa lalu menjadi halaman awal buku yang kembali Anda buka. Coba renungkan segala pencapaian dan kegagalan yang Anda alami. Selanjutnya, Anda dapat menghasilkan energi positif untuk menghadapi hari esok.
Selain dari segi batiniah, Anda juga dapat mengetahui diri secara lahiriah (fisik). Seberapa jauh kekuatan kaki Anda melangkah, berapa kuat Anda menanggung beban ransel, atau berapa jauh Anda dapat berenang. Selanjutnya, Anda akan mencoba untuk menjalani petualangan sekuat mungkin.
Pada akhirnya, pengenalan fisik diri sendiri membawa Anda kepada pola hidup yang lebih sehat. Karena merasa kurang atau ingin menambah kemampuan, Anda akan terdorong untuk melatih tubuh.
Kelima, membentuk kecintaan terhadap lingkungan. Setelah bertualang, ada sebuah keinginan untuk Anda kembali ke tempat ini, ataupun merekomendasikannya kepada kerabat. Anda kemudian merasa terpanggil untuk menjaga alam, minimal tidak membuang sampah sembarangan. Sikap ini tidak hanya bermanfaat untuk alam dan Anda sendiri, tetapi juga orang lain yang turut serta menikmati keasriannya.
Kecintaan terhadap lingkungan bukanlah hal yang remeh. Lihat saja kondisi kota-kota besar yang sekarang semakin menjemukan. Motor, mobil, dan bus memenuhi jalan, mengepulkan CO2. Rumah-rumah saling berhimpitan. Lahan hijau pun menipis, termasuk pula tempat pembuangan sampah yang ideal. Parahnya, sampah dapat dibuang dimana saja sesuka hati. Tidak ada aturan yang diaplikasikan dengan tegas.
Jangan heran bila banjir kerap tiba. Sampah telah menyumbat saluran pembuangan, sehingga air hujan pun menggenang. Sistem respirasi tanah tidak berjalan, karena tanahnya sudah berganti dengan aspal. Oleh karena itu, sikap cinta terhadap lingkungan penting adanya. Hal ini berguna untuk menjaga kelestarian alam yang berdampak pada kehidupan manusia.
Itulah 5 manfaat bertualang di alam bebas. So, kapan Anda akan memulai petualangan?


 

@PendakiJakarta