Minggu, 17 Agustus 2014

Keselamatan di Gunung

Prioritaskan Keselamatan Saat Di Gunung
by: Pendaki Jakarta
 


Jangan meremehkan setiap peraturan/tata tertib yang ada di suatu daerah/tempat, walaupun itu kita anggap aneh dan tidak masuk akal.. Bermacam-macam gaya kita bisa lakukan di gunung, tapi cuma satu gaya yang sangatlah terpuji dan patut di contoh, yaitu "Membawa sampah turun kembali". Mendaki itu janganlah hanya sekedar mendaki, ambil dan pahamilah semua pelajaran yang kita dapat saat pendakian, dan terapkanlah dalam kehidupan kita sehari-hari..
Tidak ada seorangpun Pendaki Gunung Sejati yang rela mati konyol saat mendaki, yang hanya dikarenakan minimnya pengetahuan tentang pendakian. Seorang pendaki gunung pada dasarnya menghadapi dua jenis rintangan ketika melakukan kegiatannya. Rintangan yang pertama sifatnya ekstern, artinya rintangan itu datang dari obyek yang sedang dihadapi. Obyek itu adalah gunung, dan rintangan yang dihadapinya itu berupa cuaca atau medan berat. Dan bahaya yang ditimbulkannya disebut juga bahaya obyek (objective danger). Rintangan jenis kedua sifatnya intern, yaitu rintangan yang datangnya dari si pendaki gunung itu sendiri. Kalau si pendaki gunung itu tidak mempersiapkan diri dengan baik, maka rintangan itu akan datang dari dirinya sendiri. Bahaya yang timbul ini disebut juga dengan bahaya subyek ( subjective danger ). Pada hakekatnya bahaya dan tantangan tersebut adalah menguji kemampuan dirinya untuk bersekutu dengan alam yang pada umumnya orang menganggap bahwa mendaki gunung kalo sduah sampai puncaknya, maka itulah yang namanya "Keberhasilan".
Di Indonesia, bahaya obyek bagi pendaki gunung itu secara umum tidaklah terlalu besar. Karena keterjalan gunung - gunungnya relatif tidak seberapa terjal jika dibandingkan dengan keterjalan gunung-gunung yang ada di negara lain. Suhu udaranya pun tidak terlalu dingin, terutama dibandingkan dengan gunung - gunung di daerah subtropis. Cuacanya pun hanya dipengaruhi oleh dua musim, yaitu musim kering dan musim hujan. Kecelakaan di gunung selama ini kebanyakan disebabkan karena kesalahan yang dilakukan oleh si pendaki itu sendiri, karena masih banyak segi yang belum memadai untuk dirinya sendiri. Perlengkapan mendaki gunung adalah pokok pemikiran pertama bagi setiap pendaki gunung. Sebab, "Perlengkapan yang baik adalah salah satu usaha utk mengurangi bahaya di gunung, baik obyek maupun subyek, obyek maupun subyek". Gunung dengan segala aspeknya merupakan lingkungan yang asing bagi organ tubuh kita, lebih-lebih bagi mereka yang hidup di dataran rendah. 




Milikilah pengetahuan tentang ilmu pendakian sebelum memulai mendaki. Jika kita merasa kurang pengetahuan, Usahakan melakukan perjalanan dengan orang yang sudah pernah ke tempat tersebut/yang lebih berpengalaman. Sebelum kita memulai pendakian, alangkah baiknya kita mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang medan/gunung yang akan kita daki agar bisa menyiapkan sgala kebutuhan dan perlengkapan yang dibutuhkan saat pendakian. Dan perlu diingat, "Jangan menomor duakan keselamatan hanya karena sebuah ambisi utk menggapai puncak". Mendaki gunung itu adalah suatu kegiatan yang keras, penuh petualangan, membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan, dan daya juang yang sangat tinggi dalam melakukannya. Puncak adalah tujuan, tapi bukanlah yang utama,, yang utama adalah prosesnya dalam menggapai puncak itu sendiri. Pada umumnya orang menganggap bahwa mendaki gunung kalo sudah sampai puncaknya, maka itulah yang namanya "Keberhasilan". "Keberhasilan yang sungguh-sungguh bernilai tinggi" adalah justru apa yang telah di dapat / di pelajari dalam proses pendakiannya, Dan kepuasan terbesar sesungguhnya bukanlah karena kita telah sampai dipuncak gunung, tetapi karena kita telah melalui tantangan yang terasa begitu berat. Gunung bukanlah untuk di taklukkan, Karena, bukanlah gunung ataupun lautan yang kita taklukan, Tapi hawa nafsulah yang harus kita taklukan.




Jangan paksakan untuk melanjutkan kegiatan jika kondisi badan sedang tidak sehat. Karena itu akan membuat keadaan kita semakin terpuruk. Lebih baik gagal daripada pulang tanpa nyawa. Satu kata dalam berkegiatan di alam terbuka adalah “Alam tak kenal kata kompromi”. Di saat lengah dan takut alam dapat membunuh seorang petualang/pendaki. Seseorang yang profesional sekalipun mempunyai resiko yang sama ketika ia menempatkan dirinya di alam bebas.

"Priority remains the safety of the climbing."





@PendakiJakarta -->> Twitter
Pendaki Jakarta    -->> Facebook
Pendaki Jakarta    -->> Instagram
Pendaki Jakarta    -->> Path

Tidak ada komentar:

Posting Komentar